Deglasiasi menjadi Varuna-dvipa, Borneo, Kalimantan

Deglasiasi, Varuna-dvipa, Borneo, Kalimantan, Charles Tyler, Blust
Gambar/ peta pulau terbesar ke-3 dunia tempo dulu. Sumber: Istimewa.


Menjelajah masuk ke pra-sejarah Borneo, kita akan menemukan karya-karya yang mengagumkan, antara lain: Robert Blust ”Borneo and Iron”. 


Bahwa berdasarkan bukti linguistik, pengetahuan tentang besi secara signifikan mendahului waktu benda besi pertama kali didokumentasikan di pulau terbesar ketiga dunia itu pada tahun 500-200 SM.


Potongan obsidian yang berasal dari Inggris mengisyaratkan bahwa telah ada hubungan perdagangan antar- pulau sekitar 1000 SM. Endapan bijih (bukan: biji) besi dengan konsentrasi tinggi di pulau ini menjadikan Borneo sebagai lokasi yang mungkin di kawasan Asia Tenggara sebagai lokus transisi dari penggunaan peralatan besi impor ke tahap pengerjaan besi.                        


Deglasiasi adalah transisi dari kondisi glasial penuh selama zaman es, ke interglasial hangat, ditandai dengan pemanasan global dan kenaikan permukaan laut karena perubahan volume es benua.


Borneo terhubung dengan daratan Asia Tenggara, sebagai bagian dari daratan yang dikenal sebagai Sundaland, dari 2,5 juta tahun yang lalu hingga sekitar 10.000 tahun yang lalu. Ketika, pada masa itu, terjadi deglasiasi global yang mengubahnya kembali menjadi sebentuk pulau.


Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia tiba di Sarawak, melalui darat, setidaknya 40.000 tahun yang lalu.


Bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan bahwa manusia telah bermukim dan hidup di Gua Niah, Miri, Sarawak (Charles Tyler (1993) dan Masri (2021). Dari Kuching. Ibunegeri tanah Sarawak. Lokus, bukti penduduk telah menghuni bumi Borneo itu pun, meninggalkan jejak sejarahnya. *)

LihatTutupKomentar
Cancel