Tasam: Pesona Nikmatnya Buah Tropis Khas Kalimantan

tasam, terap, buah tropis, Kalimantan

  • Penampakan buah tasam: menggoda selera!
Kalimantan, atau tempo doeloe dikenal dengan julukan "Varuna-dvipa" era pengaruh Hindu-Idia. Kemudian datang orang Barat menamainya Borneo. Kini dikenal dengan pulau Kalimantan. 

Apa pun namanya, pulau terbesar ke-3 dunia diciptakan Tuhan sembari tersenyum. Selain subur, kekayaan alam dan hutannya luar biasa. Buah tropis, yang tidak ditemukan di tempat lain, ada di sini.

Musim buah raya, buah duren bukanlah buah nomor satu. Kalah dengan kelezatan dan keunggulan aneka buah tropis lainnya. Di pedalaman Kalbar khususnya, mentawa dan tasam (saya masih mencari nama latinnya) menggeser kedudukan duren.

Tasam buah yang punya tangkai yang bila kulitnya dikupas terlihat isi (biji) putih bersih. Isinya akan mengelupas mudah bila sudah matang, tinggal bijinya yang sebesar kacang tanah dikeluarkan dengan gigi atau lidah. Mirip peluntan, bagi yang mengenal jenis tanaman buah ini.

Duren yang berlimpah ruah, tidak termakan, akhirnya dibuat tempoyak dan lempok. Ingin tahu seperti apa buah dan pohon tasam yang aromanya sedap dan cita rasanya perisa?

Tasam bukan sama dengan cempedak. Cempedak berbuah di pohon dan dahan, sedangkan tasam berbuah di ujung. Lagipula, daun tasam lebar, selebar kertas A-4, berbentuk tangan manusia. Lihatlah pada gambar yang menjadi ilustrasi kita ini!

  • Morfologi tasam itu.
Buah tasam punya tangkai yang bila kulitnya dikupas terlihat isi (biji) putih bersih. Isinya akan mengelupas mudah bila sudah matang, tinggal bijinya yang sebesar kacang tanah dikeluarkan dengan gigi atau lidah. Mirip peluntan, bagi yang mengenal jenis tanaman buah ini. Namun, tetap beda.

Penasaran? 

Pergi ke Kalbar saat ini juga. Sebab sedang musim buah raya. Terserah sanggup makan berapa banyak, tinggal petik saja ke hutan.

Orang Bidayuh menamai buah ini: tasam. Sedangkan Dayak rumpu lain dengan "terap". Apa pun namanya. Rasanya: perisa, tiada duanya.

  • Pernah makan buah tasam? Kalau belum, mau tahu rasanya? Ehmmmmmmmmmm!

Di Jangkang, suatu wilayah tanpa perkebunan sawit dan pertambangan karena ditetapkan sebagai hutan lindung dan wilayah adat Dayak, berbagai jenis tasam ini tumbuh dengan bebas. Di musim buah, tak ada yang melirik. Jadi makanan tupai binatang saja. Busuk. Jatuh ke tanah jadi humus.

Bisa saja nanti, kelak kemudian hari. Ada pabrik pengalengan buah tropis, yang kita dirikan untuk mengolah buah tropis yang kadang tidak diminta, berbuah sendiri. (Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel