Lembuswana dan Bagaimana Orang Hindu-India Dahulu Menguasai Nusantara?

Lembuswana, Hindu, Nusantara, Museum, Mulawarman, Kutai Martadipura, Mahakam, Kudungga, Mulawarman, Yupa

 

Lembuswana di muka Museum Mulawarman.

PATIH JAGA PATI : Di muka replika Lembuswana. Di ambang suatu sore. Senja kala mulai membekap kawasan Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan Timur.

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo

Jika melepas pandang ke depan. Menghadap ke arah seberang. Pandangan melintas jalan aspal nan mulus. Tepi Sungai Mahakam. Debit airnya tiada henti mengalir.

Kita bisa bayangkan. Bagaimana berabad silam. Orang-orang Hindu datang ke bumi Borneo. Pasti bukan naik besi terbang. Melainkan menyusuri perairan. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Melintas laut lepas. Menaklukkan segara mahaluas yang memisahkan jalur antar-negara. Dikelilingi bahari yang menjadi  nantinya menjadi wilayah Nusantara.

Baca Manusia Dayak Dan Kawasan Hijau Borneo

Bagaimana orang-orang Hindu, dari India, masuk ke sini? Membawa bukan saja barang-barang dangangan, melainkan juga kepercayaan. Termasuk di dalamnya adat istiadat, agama, dan pendidikan.

Jika kita pelajari saksama, seluruhnya kisahan di balik Lembuswana adalah pendidikan. Tidak peduli dari mana asalnya. 

Perkara yang pokok adalah bahwa wiracerita di baliknya mengajarkan nilai-nilai, antara lain: kesatriaan, keberanian, pengajaran, dan taat pada pemimpin.

Bukankah itu semua nilai yang berlaku universal? Tidakkah semua itu adalah akumulasi nilai, yang kita sedang alami krisis di masa kini? 

Maka berdarma-wisata ke Museum Mulawarman ini. Niscaya pengunjung merasa retreatRefereshing mengenai wawasan kebangsaan.

Kita disadarkan kembali tentang nilai-nilai kemanusiaan. Yang dibungkus dalam replika Lembuswana.

Bagaimana pendatang, dari luar, masuk wilayah Nusantara? Membawa seluruh kebudayaan (7 aspek kehidupan menurut Krober dan Kluckhohn) lalu kita mengadopsinya? Bukan hanya mengadopsi. Budaya luar itu juga menghegemoni seluruh aspek kehidupan kita sepanjang segala abad, bahkan hingga kini?

Hewan mistik ini menjadi lambang Kerajaan Kutai hingga masa Kesultanan Kutai Kartanegara. Ia hewan yang digambarkan berkepala singa. Bertajukkan mahkota. Sebagai  lambang dari kekuasaan seorang raja yang dianggap punya wibawa dan karisma seperti dewa.

Baca Pasak Bumi: Tanaman Perkasa Dari Borneo

Dan lihatlah ada belalai seperti gajah. Mengingatkan akan dewa Gansesha yang diyakini sebagai simbol dari intelektual, kecerdasan. replika Lembuswana juga dilukiskan  bersayap seperti burung garuda. Dan bersisik seperti ikan.

Apa maksudnya?

Dalam sekali! Kita mau tidak mau dibawa masuk ke dalam ilmu simbol, dalam hal ini, semiotika. Bahwa Lembuswana adalah makhluk omnipotens. Ia yang menguasai bumi, air, tanah, dan udara. Kehidupan dan kuat kuasa ada dalam kendalinya.

Bagaimana orang-orang Hindu datang, kemudian menguasai Nusantara?

Dalam hal ini, yang menjadi pokok renungan saya adalah: Bagaimana pendatang, dari luar, masuk wilayah Nusantara? Membawa seluruh kebudayaan (7 aspek kehidupan menurut Krober dan Kluckhohn) lalu kita mengadopsinya? 

Bukan hanya mengadopsi. Budaya luar itu juga menghegemoni seluruh aspek kehidupan kita sepanjang segala abad, bahkan hingga kini? Sementara, kita mau dan sudi saja menerima. Tanpa pertanyaan, apalagi bantahan? 

Jika memandang ke tepian Sungai Mahakam. Menembus batas imaginer. Pikiran mengelana.  Jauh melampaui cakrawala masa lalu. Menembus sekat ruang dan waktu.

Dahulu kala. Tempat ini ditengarai  menjadi pusat persinggahan. Selain merupakan jalur perdagangan internasional . 

Setelah melewati Selat Makassar, melalui Filipina, dan Cina. Sedemikian rupa, sehingga kerajaan Kutai menjadi makmur. Rakyatnya aman sentosa. Perekonomian berputar sebab berasal dari kegiatan perdagangan.

Di dalam museum. Ada banyak bukti yang bisa mengisahkan semua itu. Di sana, ada replika  Prasasti Yupa. Saya telah memotretnya. Dan bertanya pada penjaga ihwal sejarah ditemukannya.

Menurut catatan sejarah, penguasa pertama Kerajaan Kutai adalah seorang tokoh bernama Kudungga. Kudungga diperkirakan memulai peran pentingnya sebagai kepala suku di wilayah tersebut. 

Namun, sejarah mencatat bahwa perubahan besar dalam struktur pemerintahan Kutai terjadi karena pengaruh Hindu. Ini dapat dijelaskan dengan transformasi signifikan dalam budaya dan sistem pemerintahan yang diadopsi dari kepercayaan Hindu. 

Akibatnya, struktur pemerintahan di Kutai berubah menjadi sebuah kerajaan yang lebih terstruktur.

Kudungga, raja lokal yang menduduki tahta Kerajaan Kutai, diyakini sebagai penduduk asli Varuna-dvipa, yang kemudian dikenal sebagai pulau Borneo. 

Asal usul dari penamaan ini menunjukkan akar sejarah yang dalam di wilayah ini. Kudungga adalah tokoh penting dalam perkembangan awal kerajaan ini dan dianggap sebagai salah satu penguasa pertama yang mengukuhkan Kutai sebagai entitas pemerintahan yang kuat di pulau Borneo.

Perubahan ini, dari kepala suku menjadi sebuah kerajaan yang dipengaruhi oleh Hindu, adalah langkah penting dalam perkembangan sejarah Kutai. Hal ini mencerminkan bagaimana budaya dan agama dapat memainkan peran kunci dalam perubahan struktur pemerintahan di masa lalu. 

Kudungga dan Kerajaan Kutai adalah bagian penting dari warisan sejarah pulau Borneo yang memiliki peran  signifikan dalam pembentukan wilayah ini.

Itulah yang menjadi insisari inskripsi Batu Yupa. 

Pakar sejarah. Guru sejarah. Juga pecinta sejarah. Serta orang yang ingin tahu sejarah Nusantara, seperti saya. Rasanya, belum sah bila belum menjejak. Lalu mengalami sendiri dan masuk alam sejarah Kerajaan Kutai.

Mengapa? Sebab dalam buktu teks selalu tertulis bahwa, “Kutai Martadipura adalah kerajaan Hindu  tertua di Nusantara.”

Ditengarai Kutai Martadipura telah ada pada sirka abad ke-4 Masehi. Renungan sa masih panjang di kawasan tepian sungai Makaham itu.

Demikian banyak pertanyaan bersliweran di kepala. Misalnya: O... ternyata sejarah bisa berubah, berbalik arah, dari masa ke masa.  Penguasa bisa jatuh dan bangun. Dinasti dan wangsa akan silih berganti. Namun, nilai-nilai: tinggal tetap. Abadi.

Baca Gelegar Sumpah Patih Wilyo

Dahulu wilayah ini dikuasai penduduk lokal. Lalu Hindu. Kemudian pengaruh Islam. Kemudian ini. Dan kemudian itu.

Lalu seabad ke depan?  500 tahun ke muka? Dan seribu tahun lagi?
(Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel