Penduduk Asli Kalimantan: Makmurlah dengan Sawit!

sawit, komoditas andalan, erhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Perhepi, CPO,, TBS, Malaysia, Indonesia, Bayu Krisnamurthi

Grafik pertumbuhan penanaman sawit di Indonesia, diskusi prospek sawit, dan petani sawit.


Kalimantan kini menjadi tujuan utama bagi berbagai perusahaan dan investor yang ingin menguasai lahan untuk perkebunan sawit. 

Kabupaten Ketapang, yang telah lama menjadi pusat aktivitas perkebunan sawit, menghadapi situasi di mana mayoritas lahan sawit dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar. 

Sayangnya, para petani mandiri tidak memiliki andil yang signifikan dalam kepemilikan lahan ini.

Baca Luasan Lahan Sawit Di Ketapang Dan Manfaatnya

Ketika wilayah tertentu dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar dalam industri perkebunan sawit, dampak positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat setempat, yang sering disebut sebagai efek rembesan ke bawah (trickle down effect), sangat sedikit menetesnya. 

Jadi, kehadiran perusahaan sawit yang menguasai lahan penduduk, hanya dinikmati investor dan perusahaan. 

Penduduk lokal yang digeser dan tanah (hutan adat) mereka dikuasai, seringkali gigit jari. Belum lagi soal konflik lahan penduduk dengan perusahaan. Di mana kasusnya akhir-akhir ini luar biasa mengerikan dari sisi kemanusiaan dan keadaban; terjadi di berbagai tempat di Kalimantan.

Peristiwa pencaplokan serta penguasaan lahan penduduk, dan pola kerja sama dengan perusahaan yang tidak seimbang, menciptakan kesenjangan sosial, selain kecemburuan sosial. 

Pada gilirannya, kesenjangan itu memicu kerusuhan, amuk massa. Hal ini tentu sangat tidak diinginkan dari ekses, atau dampak-ikutan, dari perusahaan dan ekisting perusahaan sawit. 

Semestinya, kehadiran sawit memakmurkan, menyejahterakan, menaikkan taraf hidup penduduk setempat; bukan sebaliknya! Tapi yang terjadi di berbagai wilayah Kalimantan adalah dehumanisasi, selai deforestasi. 

Advokasi serta pendampingan hukum untuk rakyat kecil, umumnya Dayak, syukur didapat dari sebuah organisasi masyarakat yang peduli pada nasib dan masa depan Dayak. Kiranya keadilan senantiasa ditegakkan di pulau Kalimantan yang adalah warisan bagi penduduk lokal untuk dikuasai dan dinikmati.

CSR yang kurang memadai dan tidak merata
Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang diterapkan cenderung tidak memadai untuk memperbaiki infrastruktur seperti jalan, memberikan bantuan sosial yang nyata, atau meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. 

Bahkan, hampir tak pernah terdengar cerita penduduk lokal mendapat kesempatan menduduki jabatan di tingkat manajemen perusahaan sawit. 

Posisi tertinggi yang dapat mereka capai adalah sebagai mandor. Sementara itu, mayoritas penduduk lokal terpaksa menjadi buruh harian, pekerja kasar, atau bahkan pemanen sawit yang harus bekerja keras di bawah kondisi yang sering kali sulit.

Situasi ini mencerminkan ketidaksetaraan dalam kepemilikan dan manfaat yang dihasilkan dari industri perkebunan sawit di Kabupaten Ketapang, dan fenomena serupa terjadi di banyak wilayah Kalimantan lainnya. 

Baca Sawit Sebagai Alat Politik-Ekonomi

Untuk mengatasi ketidakadilan ini, sangat penting untuk mempertimbangkan kembali model bisnis yang dominan saat ini dan merumuskan kebijakan. Keputusan yang memungkinkan partisipasi lebih luas dari petani mandiri dan penduduk setempat dalam pengelolaan dan kepemilikan perkebunan sawit. 

Dengan begitu, kita dapat menciptakan dampak sosial yang lebih positif dan berkelanjutan dalam masyarakat setempat. Selain memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan dan manajemen dalam industri sawit.

Daripada orang, dan pendatang, asing kaya di tanahmu karena sawit, lebih baik kamu yang kaya! Daripada etnis lain kaya, lebih baik orang Dayak, sebagai pewaris sah bumi Borneo, menjadi kaya!

Nyaris tak terdengar cerita penduduk lokal mendapat kesempatan menduduki jabatan di tingkat manajemen perusahaan sawit. Posisi tertinggi yang dapat mereka capai adalah sebagai mandor. Sementara itu, mayoritas penduduk lokal terpaksa menjadi buruh harian, pekerja kasar, atau bahkan pemanen sawit yang harus bekerja keras di bawah kondisi yang sering kali sulit

Itulah cara saya biasanya memberikan semangat, lebih sebagai pendorong daripada yang lain. Tujuannya agar penduduk lokal terinspirasi.

Sawit akan terus menjadi komoditas unggulan yang telah diberikan prioritas dan perencanaan matang oleh Indonesia. 

Dalam 6 bulan terakhir, saya aktif dalam diskusi tingkat internasional tentang topik ini, dengan rekan-rekan yang berperan dalam pengambilan keputusan dan industri sawit di negara ini, dari hulu hingga hilir.

Sawit tanpa ragu merupakan komoditas terkemuka. Dalam segala aspek, perbandingannya dengan komoditas lain sangat positif. Silakan lihat tabel di bawah ini untuk mengilustrasikan perbandingan ini secara lebih rinci.

Karena alasan itu, Indonesia perlu mampu menghasilkan minimal 25 ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per hektar setiap tahun. Produksi seperti itu harus terus ditingkatkan, minimal dipertahankan, dan harus mempertahankan daya saingnya di pasar minyak nabati global.

Baca Kuritzin, Chairman Rusia Chambers Of Commerce Dan Buku Sawit Untuk Negeri

Hal ini sesuai dengan pendapat Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi, bahwa Indonesia perlu mencapai setidaknya 25 ton TBS kelapa sawit per hektar per tahun untuk mempertahankan daya saingnya. Fokus peningkatan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO seharusnya ditempatkan pada perkebunan rakyat.

 "Kita harus menjaga kelangsungan kelapa sawit dan daya saingnya. Kita menjadi pemimpin ekspor minyak nabati karena memiliki daya saing yang bermanfaat bagi petani sawit," kata Bayu.

Sawit seharusnya tidak hanya menghasilkan CPO, tetapi juga produk beragam, dari cairan hingga gas. Produktivitas TBS harus disertai dengan rendemen (yield) minimal 25%, menghasilkan CPO sebanyak 5-6 ton per hektar per tahun.

Petani Indonesia perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam hal produktivitas sawit ini. 

Ada dua alasan utama mengapa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Malaysia: produktivitas yang lebih rendah dan pengetahuan petani yang perlu ditingkatkan dalam pemanenan, peremajaan tanaman, dan praktik yang efisien.

Dalam upaya untuk bersaing dengan Malaysia dan mencapai visi menggandakan suplai CPO Indonesia ke pasar global sekitar 60 juta ton pada 2050, lompatan produktivitas diperlukan.

Menurut hasil pemantauan, ada beberapa masalah utama dalam industri sawit, termasuk kepemilikan, penempatan sumber daya manusia, proses perolehan lahan, uang beredar, efek penyebaran atas kehadiran perusahaan/usaha sawit, dan isu deforestasi. 

Studi ilmiah telah dilakukan, dan bagi yang ingin menggugah, mari kita lihat data yang ada.

Kita menginginkan penduduk lokal, terutama orang di Kalimantan, yang memiliki potensi untuk menjadi pemilik lahan perkebunan sawit rakyat, untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktif terlibat sebagai pelaku dalam perkembangan industri ini. ***

LihatTutupKomentar
Cancel