Meruba| Tradisi Mencuci Barang Pusaka Kerajaan Hulu Aik

Meruba Tradisi Mencuci Barang Pusaka Kerajaan Hulu Aik
Meruba| Tradisi Mencuci Barang Pusaka Kerajaan Hulu Aik

Sejarah.

Demikian para cerdik cendikia. Peristiwa yang hanya sekali terjadi. Tidak bisa diulang, apalagi diproduksi. 


Akan tetapi, tradisi --yang merupakan bagian sejarah, dapat diwariskan. Tradisi adalah: transmisi adat budaya atau kepercayaan dari generasi ke generasi. Atau fakta yang diwariskan dengan cara menjaganya, secara berkesinambungan.


Tradisi Maruba, misalnya. Adalah salah satu tradisi mencuci barang-barang pusaka kerajaan Hulu Aik. Upacara ritual ini digelar tanggal 25 – 26 Juni setiap tahunnya. Maruba diadakan untuk mengetahui beberapa hal. Di antaranya untuk mengetahui keadaan alam, musim hujan atau musim kemarau.


Maruba juga adalah bagian dari adat-istiadat Dayak. Ritual mencuci barang pusaka Kerajaan Hulu Aik, yang niscaya bisa berbeda namanya di berbagai tempat. 

Raja Hulu Aik, Singa Bansa, menjelaskan bahwa kerajaan Hulu Aik memiliki lima rutinitas adat. 


Pertama, Bacampui Roba, upacara adat membakar ladang.


Kedua, Bacampui Makan Bayam-Sawi yakni, upacara adat makan sayur-sayuran.


Ketiga, Bacampui Puyak Kanukng Padi yakni, upacara adat padi bunting.


Keempat, Bacampui Maharu Padi Baru, upacara adat makan beras baru. Kelima, Maruba, membersihkan pusaka kerajaan Hulu Aik.


Salah satu upaya menjaga, dan meneruskan adat budaya dan tradisi Kerajaan Ulu Aik adalah membangun sentral yang bukan hanya meneruskan melainkan menghidupkan kembali adat budaya dan tradisi kerajaan di masa lalu. Maka dibangun Pendopo Raja Hulu Aik yang ditopang sepenuhnya pendanaan dan pengadannya oleh Pemda Ketapang. Patih Jaga Pati yang juga Sekda Ketapang bahkan menjadi penggagas dan pelopor pembangunannya.


Pendirian tiang pertama Pendopo Raja Hulu Aik yang dinamai “Balai Bosi Koling Tongkat Rakyat” pun telah dilakukan bertepatan dengan Meruba, 26 Juni 2022. Upacara, dan warisan adat tradisi nenek moyang nanti; semuanya dapat dipergelarkan sekaligus dihadirkan di sini.


Sementara itu, di jantung kota Ketapang. Dangau Kepatihan Jaga Pati/ Pesanggrahan Kepatihan Jaga Pati telah pun berdiri. Dan diresmikan, melalui ritual adat "Panyimak Rumah Raya Panukang Lawang Agong".


Saya ada di antara ratusan, bahkan ribuan tamu undangan. Tamu khusus Patih Jaga Pati, sebab saya berada dekat persis di sampingnya. Mengamati, sekaligus menikmati upacara ritual adat budaya Dayak yang selain penuh daya magis, juga mengandung makna dalam.


Apa yang saya rasakan, sekaligus kesankan dari ritual adat ini?


Saya terkenang akan perayaan Perjamuan Kudus Ekaristi, dalam Gereja Katolik. Yang bukan hanya menghadirkan kembali korban, persembahan, serta kasih Kristus  tanpa batas dan tanpa balas kepada para murid dan umat manusia; melainkan menghadirkan/ mereprsentasikan seluruh kehidupan umat beriman. Tuhan hadir dalam perayaan Ekaristi itu, demikian iman Katolik.


Tidak beda dengan ritual adat kerajaan Ulu Aik. Menghadirkan kembali peristiwa masa lampau, untuk konteks masa kini!


Demikianlah tradisi itu terus hidup, dan berlangsung. Pada upacara ritual adat Panyimak Rumah Raya Panukang Lawang Agong 5 Desember 2022, kembali hidup sejarah itu.

Sejarah bukan semata-mata tentang masa lampau. Yang hanya sekali terjadi. Tidak dapat diputar lagi surut untuk maju ke depan. Namun, representasi dan aktualisasi nilai sejarah untuk masa kini yang paling penting. 


Maka benarlah ucapan sejarawan dunia sing ada lawan, Marcus Tullius Cicero (106-43 SM). Dari 5 dimensi sejarah, kata Cicero, Sejarah adalah: Nuntia vetustatis.

Ya, benar adanya. Sejarah adalah pesan dari masa silam.

LihatTutupKomentar
Cancel