Bisakah Artificial Intelligence (AI) Mengganti Natural Intelligence (NI)?

Artificial Intelligence (AI), Natural Intelligence (NI), Alfred Binet dan Theodore Simon, William Stern, David Wechsler, Howard Gardner

sumber ilustrasi: https://www.iqmotion.ai/ai-vs-applied-ai/

Judul narasi di atas provokatif. Jawabannya hitam/putih. Padahal, tidak demikian. Artificial Intelligence (AI) bukan dalam posisi atau relasi mengganti Natural Intelligence (NI) sebab keduanya adalah entitas yang berbeda. Hubungan keduanya bukan pertentangan, melainkan saling melengkapi.


AI adalah kecerdasan buatan yang diciptakan oleh manusia melalui algoritma dan komputer untuk mengeksekusi tugas tertentu dengan cepat dan akurat. 

AI didasarkan pada data dan model matematis yang telah diprogram sebelumnya. Meskipun AI telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan ini bekerja dalam kerangka yang telah ditentukan oleh manusia dan terbatas pada tugas-tugas tertentu yang telah diatur.

Di sisi lain, "natural intelligence" mengacu pada kecerdasan yang dimiliki oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. NI mencakup berbagai aspek kemampuan kognitif manusia seperti pemahaman, kreativitas, penalaran, emosi, dan kesadaran diri. Kecerdasan manusia jauh lebih luas, fleksibel, dan adaptif daripada AI.

Jadi, AI dan NI berbeda dalam sifat dan lingkupnya. AI dan NI tidak saling bertentangan atau menjadi "lawan" satu sama lain. Sebaliknya, AI dapat digunakan sebagai alat untuk membantu meningkatkan kemampuan manusia dalam berbagai bidang dan memberikan solusi untuk tantangan yang kompleks. 

Di masa depan, kolaborasi antara AI dan NI akan menjadi kunci dalam mencapai kemajuan lebih lanjut dalam berbagai bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.

Alfred Binet dan Theodore Simon
Pada awal abad ke-20, Alfred Binett dan Theodore Simon berusaha mengukur kapasitas kognitif anak-anak dengan tujuan membantu mengidentifikasi anak-anak yang memerlukan bantuan khusus di sekolah. Mereka mengembangkan skala tes kecerdasan yang disebut Binet-Simon Intelligence Scale pada tahun 1905. Tes ini awalnya mengukur fungsi kognitif umum dan tidak mengidentifikasi jenis kecerdasan khusus.

William Stern dan Pengenalan IQ
Pada tahun 1912, William Stern, seorang psikolog Jerman, memperkenalkan istilah "IQ" (Intelligence Quotient) untuk merujuk pada hasil dari tes kecerdasan. Dalam rumus IQ awal, IQ dihitung sebagai rasio antara "umur mental" dan "umur kronologis" dikalikan dengan 100. Namun, rumus ini memiliki beberapa kelemahan, dan seiring waktu, definisi IQ mengalami evolusi.

David Wechsler dan Skala Kecerdasan Wechsler

David Wechsler, seorang psikolog Amerika, mengembangkan Skala Kecerdasan Wechsler untuk Dewasa (WAIS) pada tahun 1955 dan Skala Kecerdasan Wechsler untuk Anak-Anak (WISC) pada tahun 1949. 

Wechsler menekankan bahwa kecerdasan tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga memperhitungkan aspek emosional dan prilaku. Skala Wechsler juga membagi kecerdasan menjadi beberapa subskala untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kecerdasan individu.

Gardner dan Teori Keberagaman Kecerdasan

Pada tahun 1983, Howard Gardner, seorang psikolog dan ahli pendidikan Amerika, memperkenalkan teori keberagaman kecerdasan (Multiple Intelligence Theory). Gardner berpendapat bahwa kecerdasan tidak dapat diukur hanya dengan satu angka (seperti IQ), tetapi ada berbagai jenis kecerdasan yang berbeda. Menurut teorinya, ada delapan jenis kecerdasan, termasuk kecerdasan verbal-linguistik, logika-matematis, visual-ruang, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Teori ini mengajukan pandangan yang lebih holistik tentang kecerdasan dan mengakui bahwa setiap orang dapat memiliki keunggulan dalam beberapa bentuk kecerdasan sementara mungkin kurang dalam bentuk kecerdasan lain.

Posisi kita

Ketika kecerdasan manusia  dapat digantikan kecerdasan mesin, dalam aspek tertentu sebagaiman bahasan di atas, bagaimana posisi kita?

Perkembangan definisi IQ dari awalnya hingga teori keberagaman kecerdasan oleh Howard Gardner mencerminkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas kecerdasan manusia. 

Sementara IQ masih digunakan dalam beberapa konteks, pendekatan yang lebih luas dan inklusif yang diusulkan oleh teori keberagaman kecerdasan telah menginspirasi pendekatan pendidikan dan pengakuan kecerdasan manusia yang lebih komprehensif dan individualistik.

Posisi manusia yang mempunyai IQ natural (kecerdasan manusia) berdampingan dan bekerja sama dengan AI (kecerdasan buatan) dapat menciptakan sinergi yang kuat dan menghasilkan dampak positif yang besar dalam berbagai bidang. 

Kombinasi kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada salah satu saja. 

 Manusia dan AI

Gagasan bahwa "AI adalah alat" menggarisbawahi peran teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana bantu bagi manusia, bukan sebagai pengganti. Sebagai alat, AI dirancang untuk memberikan bantuan, memperluas kapabilitas, dan meningkatkan efisiensi pekerjaan manusia. Pentingnya adalah menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan integritas manusia.

Sebagai alat, AI memiliki potensi besar untuk memecahkan masalah kompleks, mengotomatisasi tugas-tugas rutin, dan meningkatkan kreativitas manusia. Namun, seiring dengan keberlanjutan kemajuan teknologi, perlu juga memperhatikan dan memastikan bahwa kebijakan dan regulasi yang ketat diterapkan untuk menjaga etika dan keadilan.

Pentingnya gagasan bahwa "manusia menguasai alat" menekankan kontrol manusia terhadap teknologi, bukan sebaliknya. Ini mencerminkan kebijakan pengembangan dan penerapan AI yang berpusat pada nilai-nilai manusia, etika, dan tujuan mulia. Manusia memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa penggunaan AI sejalan dengan prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai kemanusiaan.

Untuk saat ini, keberlanjutan AI yang bertujuan baik merupakan poin positif. Penting untuk menjaga bahwa kecerdasan buatan tidak digunakan untuk tujuan yang merugikan atau melanggar hak asasi manusia. 

Dengan tetap memperhatikan etika dan nilai-nilai manusia, kita dapat memastikan bahwa AI terus menjadi alat yang memberikan manfaat dan mendukung kemajuan masyarakat secara positif. Kesadaran dan perhatian terhadap konsekuensi etis dari perkembangan teknologi adalah langkah penting untuk membangun masa depan yang seimbang antara kemajuan teknologi dan kesejahteraan manusia.

AI memudahkan, tidak menggantikan peran manusia

Berikut adalah beberapa cara yang sebaiknya dilakukan untuk menemukan kolaborasi yang efektif antara manusia dan AI:

  1. Mengetahui Batasan dan Kekuatan Masing-Masing
    Penting bagi manusia untuk memahami batasan dan kekuatan AI serta kecerdasan manusia itu sendiri. AI mampu melakukan tugas-tugas berulang dengan kecepatan dan akurasi tinggi, sementara manusia memiliki kemampuan kreativitas, empati, dan pemahaman konteks yang unik. Dengan saling mengenali peran masing-masing, kolaborasi bisa berjalan lebih baik.
  2. Kolaborasi dalam Pekerjaan
    AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin dan berulang, memungkinkan manusia untuk fokus pada tugas-tugas yang memerlukan kreativitas dan keputusan kompleks. Pekerjaan yang memadukan kecerdasan manusia dan AI dapat menciptakan efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi.
  3. Menggunakan AI sebagai Alat Bantu
    Manusia dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan. AI dapat menganalisis data besar secara cepat dan membantu manusia dalam membuat keputusan yang lebih informasional dan cerdas.
  4. Menggabungkan Kreativitas dan Inovasi
    Kecerdasan manusia mampu menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif. AI dapat membantu menguji dan memvalidasi ide-ide tersebut dengan menggunakan analisis data dan model prediktif
  5. Mengoptimalkan Proses Pembelajaran
    AI dapat digunakan dalam pendidikan untuk menciptakan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan individual siswa. Dalam hal ini, kecerdasan buatan dapat memberikan bimbingan dan dukungan tambahan bagi siswa, sementara guru tetap berperan sebagai fasilitator dan mentor.
  6. Peran Pengawasan dan Etika
    Dalam penggunaan AI, manusia harus memainkan peran dalam pengawasan dan pengendalian teknologi ini. Etika dalam pengembangan dan penerapan AI juga menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan dengan tanggung jawab dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan membutuhkan komunikasi yang baik, pemahaman akan tujuan bersama, serta kesadaran akan manfaat dan risiko dari implementasi teknologi ini. 

Ketika dikelola dengan bijaksana, kolaborasi antara manusia dan AI berpotensi untuk mengatasi berbagai tantangan dan membawa manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

  • Rangkaya Bada

LihatTutupKomentar
Cancel