Cornelis: Penduduk Kalimantan, Kayalah dengan Sawit di Tanah Sendiri

Cornelis, penduduk Kalimantan, Sawit

 

Nujum Pak  Uda’ yang terbukti puluhan tahun kemudian.


Sekitar tahun pertama masuk milenia ke-2. Sirka era 1970-an. Meski sawit telah lama tiba di Kalimantan, jauh sebelum itu. 

Dari Marihat, Sumatera Utara bibit sawit Kalimantan (Barat) itu tiba. Namun, karena Kalimantan lebih luas, dan banyak lahan "tidur", tak pelak lagi, pulau terbesar ketiga dunia itu (
743.330 km²) menjadi incaran. Sekaligus lahan subur serta nirbatas bagi tanaman tanaman "emas hijau".

Kala itu, baru perusahaan yang bersawit di Borneo. Masyarakat belum ngeh soal sawit. Namun, ada Bupati Landak yang wilayahnya baru dimekarkan telah semacam menujumkan ke ke depan. “Tanam sawit, panen duit!”

Pada ketika itu, pernyataan pak Bupati Landak (2001-2006) Cornelis  seakan angin lalu. Bahkan, beberapa orang menertawakannya. Namun, kini nujum itu terbukti. Setelah karet anjlok, sawit kini komoditas primadona. Yang terbukti tahan banting, bahkan mengatasi krisis global dunia akibat Pandemi Covid-19.

Tesis Cornelis sederhana terkait sawit: Daripada orang, dan pendatang, asing kaya di tanahmu karena sawit. Mending kamu yang kaya! Daripada etnis lain kaya, mending orang Dayak, sebagai pewaris sah bumi Borneo, kaya.

Kadang, visi atau kata-kata “orang besar” baru dimengerti puluhan tahun kemudian. Itulah kita! Lepas dari itu semua, kita (orang Borneo) wajib bersyukur. Diberikan kelimpahan oleh Sang Pencipta. Bukan saja subur, melainkan luas tanahnya.

Makanya, kata Cornelis, “Tanam, tanam! Sekali lagi kutegaskan: tanam!”

Jika hari ini banyak pihak, termasuk NGO dan luar negeri, menentang sawit, maka itu adalah: post truth. Mengapa? Sebab Kalimantan, kita Indonesia, penghasil dan penikmat emas hijau ini. Orang tak ingin kita kaya!

Tidak syak lagi. Sawit komoditas primadona. Perbandingan dengan komoditas lain, jauh. Dari sisi apa pun dipandang. Camkan dengan saksama tabel seperti ilustrasi narasi ini!

Tesis Cornelis sederhana untuk hal ini: Daripada orang, dan pendatang, asing kaya di tanahmu karena sawit. Mending kamu yang kaya! Daripada etnis lain kaya, mending orang Dayak, sebagai pewaris sah bumi Borneo, kaya!

Demikian Cornelis biasa memberi motivasi. Lebih sebagai pelecut, sebenarnya. Agar penduduk lokal terpacu.  Cornelis kini Wakil Rakyat (DPR-RI) No. Anggota. 240 dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I. Pria tegas dan wibawa ini pernah memangku jabatan penting sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (2015 - 2022) dan Gubernur Kalimantan Barat (2008-2018).

"Ayo, penduduk lokal. Terutama Kalimantan, tanah warisan leluhur suku bangsa Dayak. Yang masih berpotensi dikembangkan menjadi lahan perkebunan sawit rakyat. Jangan jadi penonton. Jadilah pelaku!" ucapnya.***

LihatTutupKomentar
Cancel