Ngumbai Keling Kumang: Upacara Memanggil Leluhur di Sekadau

Ngumbai Keling Kumang, Upacara Memanggil Leluhur di Sekadau, Iban, Tapang Sambas, Gerakan Credit Union Keling Kumang (GCUKK)

Ritual adat Iban: Ngumbai Keling Kumang.

Upacara Memanggil Keling Kumang merupakan sebuah ritual yang dilakukan oleh warga suatu kampung pada pagi hari sebelum matahari terbit. Pemandangan langit dipenuhi dengan sinar kuning keemasan saat bintang-bintang terang mulai memudar dan bulan lenyap di langit pagi.

Bunyi gong yang khas terdengar berulang-ulang, memberi isyarat bagi seluruh warga untuk berkumpul di rumah punjung. Dalam kepercayaan mereka, warga mengerti dan menghormati bunyi gong ini, bahkan satwa liar dan anjing pun tidak menyalakkan ketakutan, karena mereka tak takut pada orang mati, melainkan pada orang hidup.

Ritual ini diselenggarakan untuk memanggil Keling dan Kumang, yang diyakini sebagai roh leluhur yang tetap hidup di alam keabadian. Ritual ini diawali dengan persiapan yang telah dilakukan sejak sore hingga malam sebelumnya. Hewan kurban seperti ayam dan babi telah disembelih, dengan darahnya dianggap sebagai kurban suci untuk membersihkan dan melambangkan kehidupan.

Selama upacara, pemimpin upacara yang telah berusia 84 tahun menjelaskan bahwa Mensia Iban tak pernah mati, melainkan hanya berada di alam lain. Saat upacara berlangsung, suara pemimpin upacara memukau dengan nyanyian dan mantra dalam bahasa Desa yang fasih dan halus, menciptakan suasana magis dan merdu. Terasa seperti ada kekuatan gaib yang hadir, membuat bulu roma merinding.

Seketika, langit menjadi gelap dan matahari seolah ditelan gerhana. Meskipun musimnya seharusnya hujan, namun langit merah merona dan cahaya kilatan menyinari langit dari arah timur. Anak tangga pertama gemetar karena hujan turun dengan derasnya, mungkin sebagai pertanda kedatangan roh leluhur dari alam gaib.

Bukan hanya oleh anggota, melainkan seluruh warga dan juga nasyarakat sekitar dan dari jauh yang ingin turut serta. Bahkan tamu dari Malaysia kerap hadir utuk menyaksikan sekaligus menikmati upacara Ngumbai Keling Kumang yang kini telah langka.

Selama ritual, senapan lantak pandai besi kampung ditembakkan tanpa peluru, tetapi mengeluarkan bunyi yang sangat keras, menggema seperti meriam kompeni pada zaman Hindia Belanda. Semua warga mendengarkan bunyi tersebut, dan pemimpin upacara bertanya tentang kedatangan roh leluhur. Beberapa orang menyatakan mendengar nyanyian hujan, tapi pemimpin upacara mengungkapkan bahwa itu adalah derap langkah kaki roh leluhur.

Perlahan tapi pasti, langkah-langkah kaki roh leluhur semakin mendekat, seiring dengan raungan senapan berbunyi bergantian. Udara menjadi harum dengan aroma dari asap putih yang mengepul, seperti upacara dupa yang menyelimuti udara.

Ritual Upacara Memanggil Keling Kumang ini menjadi sebuah pengalaman magis bagi warga kampung, di mana kehadiran roh leluhur dirasakan dan dihormati. 

Bunyi gong, suara nyanyian, dentuman dan senapan menciptakan suasana yang menggugah perasaan, menghubungkan mereka dengan alam gaib dan leluhur mereka.

Upacara "Ngumbai Keling Kumang" ini diadakan tiap tahun. Biasanya di bulan Februari, oleh Gerakan Credit Union Keling Kumang (GCUKK) di kantor pusat di Tapang Sambas. 

Diikuti dengan saksama bukan hanya oleh anggota, melainkan seluruh warga dan juga nasyarakat sekitar dan dari jauh yang ingin turut serta. Bahkan tamu dari Malaysia kerap hadir utuk menyaksikan sekaligus menikmati upacara yang kini telah langka.*)

LihatTutupKomentar
Cancel