Niang: Profil Perempuan Kreatif dan Entrepreneur Dayak

Niang, perempuan, Dayak, Palanga Raya, ekonomi kreatif, tas, topi, rotan

Niang: inspirasi dan teladan bagi kita.

Saat ini populasi Dayak mencapai 8 juta di seluruh dunia, mereka memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tinggi. Di Indonesia, jumlah profesor Dayak mencapai 35 orang atau lebih. Sayangnya, prestasi dan potensi mereka dalam bidang intelektual dan kewirausahaan kurang diakui secara luas. Hal ini menyebabkan sedikit pengetahuan dari pihak luar mengenai keunggulan Dayak.

Niang, seorang perempuan dari Palangka Raya, merupakan contoh nyata dari Dayak yang kreatif dan luar biasa, yang seharusnya kita kenal. Ia mengikuti pepatah "Jika Anda ingin sukses, lakukan apa yang dilakukan oleh orang sukses." Inilah yang menjadi prinsip hidup Niang.

Niang, nama singkat dari seorang tokoh ekonomi kreatif Dayak yang luar biasa. Dia telah berhasil meraih prestasi di tingkat internasional. Ia terkenal sebagai pembuat berbagai topi bagi tokoh-tokoh penting, termasuk Gubernur DKI Jakarta, Jarot. Kiprahnya mencerminkan prinsip "Berpikir secara global, bertindak secara lokal" dalam konteks perannya sebagai pelaku ekonomi kreatif. Baginya, perubahan tidak hanya datang dari lingkungan, tetapi juga dari diri sendiri. Konsep ini sejalan dengan semangat yang diusung oleh situs web kita saat ini.

Saya telah menghabiskan banyak waktu di kota asalnya, Palangka Raya, untuk melakukan riset dan mendalami kreativitasnya. Saya juga telah mengamati bagaimana kreativitasnya berkembang. Uang yang ia peroleh melalui perdagangan yang etis dan bermoral ternyata merupakan hasil dari kepercayaan masyarakat, bukan hanya sekadar transaksi komersial. Keberhasilan tersebut mencerminkan kepuasan yang dihasilkan.

Panggilan akrabnya adalah Niang. Ia adalah seorang penggiat ekonomi kreatif yang telah membawa nama baik Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah. 

Niang memiliki keterampilan tangannya yang lincah dalam memilih bahan dan merajut. Semua dilakukan dengan penuh gairah dan sukacita. Hasil kerjanya hampir sempurna. Jika produk kerajinannya tidak hanya menarik perhatian tetapi juga diminati dan dibeli, bahkan hingga di luar provinsi Tambun Bungai.

Ia telah mendirikan sebuah galeri seni budaya Dayak, di mana ia memamerkan dan menjual karya-karya kreatifnya. Inovasi ini terjadi saat sebagian besar masyarakat Dayak masih bergantung pada ekonomi tradisional seperti pertanian.

Niang adalah desainer dan produsen tas dan topi dari rotan. Ia juga menjahit pakaian untuk pejabat-pejabat Kalimantan Tengah, termasuk Gubernur.

Hanya sedikit orang Dayak yang mengambil langkah ke ekonomi kreatif. Mereka secara cerdas mengomodifikasi warisan budaya nenek moyang mereka menjadi produk bernilai jual dan memiliki daya tarik ekonomi.

Tidak diragukan lagi, Niang adalah sumber inspirasi. Ia membuktikan bahwa dengan mengelola produk secara baik, memperhatikan kemasan, promosi, dan pemasaran sesuai dengan tren saat ini serta selera pasar, produk dengan muatan budaya Dayak dapat laris di pasaran.

Uang yang diperoleh dari perdagangan yang bermoral dan etis ternyata adalah hasil dari kepercayaan masyarakat, dan bukan semata-mata transaksi komersial. Uang ini adalah manifestasi dari kepuasan.

Sekarang saatnya untuk memahami lebih dalam tentang ekonomi kreatif. Sumber daya alam akan habis suatu hari nanti, tetapi warisan budaya nenek moyang, seperti sumur Yakub, akan tetap mengalir selama kita bekerja dengan cerdas, bukan hanya keras.

Sehari-hari, Niang adalah seorang guru di TK. Namun, ia dikenal sebagai pekerja kreatif. Ketika orang bertanya padanya apa yang ia lakukan, pertanyaan itu bukan lagi "di mana kamu bekerja?", melainkan "apa usahamu?". Niang memberikan contoh bahwa penting untuk menciptakan lapangan kerja daripada hanya mencari pekerjaan.

Niang adalah desainer dan produsen tas dan topi dari rotan. Ia juga menjahit pakaian untuk pejabat-pejabat Kalimantan Tengah, termasuk Gubernur.

Hal menarik di Kalimantan Tengah adalah pada setiap acara resmi, orang-orang mengenakan pakaian dan topi khas daerah tersebut. Ini mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan menciptakan efek berganda yang mempengaruhi sektor lain seperti penjahit, penjual kain, galeri, toko, mal, dan bahkan di bandara.

Dengan senyumannya yang ramah, Niang membuktikan bahwa pekerjaan yang sukses melibatkan banyak pihak. Gerakan ekonomi kreatif berbasis lokal yang ia pimpin telah menggerakkan roda ekonomi dengan pesat dan luas. *)

LihatTutupKomentar
Cancel