Tjilik Riwut : Abadi dalam Buku, Galery dan Resto

Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah, gubernur, pahlawan nasional, Katingan, Sejarah Kalimantan, Kalimantan Membangun

Jangan menyebut diri pegiat dan penulis Dayak jika tidak membaca, apalagi mengenal siapa Tjilik Riwut. 

Bukan sebatas mengenalnya sebagai pahlawan nasional etnis Dayak dan Gubernur Kalimantan Tengah saja. Mengapa? Sebab ada gubernur Dayak lain, namun nyaris dilupakan, karena tidak menulis.  

Tjilik Riwut abadi karena literasi. Buku-buku yan ditulisnya, meski pada waktu itu berupa catatan yang mendeskripsikan kondisi Kalimantan dan Dayak masa itu, kemudian hari bernilai sejarah, karena tidak ada duanya.

Tjilik lahir pada tanggal 2 Februari 1918 di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah. Ia adalah seorang Dayak yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi, sebagaimana pesawat tempur yang ia kendalikan terbang tinggi.

Semangat nasionalisme dan patriotisme Tjilik dipicu oleh pendidikan dan pengalaman sosialnya di Jawa, yang memperluas wawasan dan pandangannya seperti pemandangan dari angkasa.

Tidak ada yang bisa mengingkari bahwa Riwut adalah seorang tokoh perjuangan kemerdekaan dari Kalimantan. Ia menjalani perjalanan panjang di tanah Jawa, hingga akhirnya menjadi sahabat dekat Soekarno, proklamator dan presiden RI pertama.

Meskipun dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan dalam bidang militer, perjuangan Riwut sebenarnya dimulai dari dunia jurnalistik. Ia menempuh pendidikan perawat di Bandung dan Purwakarta, dan pada tahun 1940, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Pakat Dayak dan Suara Pakat.

Selain itu, Tjilik juga menjadi koresponden untuk Harian Pemandangan dan Harian Pembangunan. Melalui perjuangan dalam menulis, ia memperdalam pemahamannya tentang perjuangan kemerdekaan.

Selama masa pendudukan Jepang, Tjilik direkrut untuk mengumpulkan informasi tentang Kalimantan untuk kepentingan militer Jepang. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun jaringan dan koordinasi di pedalaman, yang nantinya menjadi modal penting dalam Perang Kemerdekaan.

Riwut adalah bagian dari Tentara Ekspedisi 96 yang mendarat di Kalimantan, menghadapi Belanda. Ia bahkan memimpin operasi penerjunan Pasukan Payung pertama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 17 Oktober 1947. Penerjunan ini terjadi di Desa Sambi, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Tjilik Riwut adalah sumber inspirasi bagi banyak orang, termasuk Yansen dan penulis ini, yang terinspirasi oleh semangat literasinya. Tjilik sebenarnya bukan hanya menulis buku, tapi ia menulis untuk menciptakan keabadian.

Dari sekian banyak buku dan kumpulan tulisannya karya tulis Tjilik Riwut dapat dikategorikan ke dalam 3 bidang utama: 1)Perang Kemerdekaan di Kalimantan, 2) Catatan Perjalanan Jurnalistik, dan 3) Kalimantan dan Dayak.

Peristiwa penerjunan tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Pasukan Khas TNI-AU, dan saat itu, Pemerintah RI berada di Yogyakarta. Tjilik Riwut memiliki pangkat Mayor TNI saat itu, dan pangkat terakhirnya dalam militer adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Riwut merupakan salah satu tokoh yang mewakili 142 suku Dayak di Kalimantan yang setia pada Republik Indonesia dan melaksanakan Sumpah Setia pada 17 Desember 1946 di Gedung Agung, Yogyakarta.

Di bidang politik, Riwut pernah menjadi anggota KNIP (1946-1949). Setelah perang, ia memulai karier politiknya dan menjabat sebagai Wedana di Sampit, Kalimantan Tengah pada tahun 1950. Kemudian, ia menjadi Bupati Kotawaringin Timur dari tahun 1951 hingga 1956.

Riwut juga mengemban beberapa jabatan berbeda dalam waktu yang sama, seperti menjadi residen kantor persiapan/pembentukan daerah swantara TK 1 Kalimantan Tengah di Banjarmasin pada tahun 1957.

Pada tahun 1958, Tjilik Riwut menjadi Gubernur Kepala Daerah Swantara Tingkat I Kalimantan Tengah, dan kontribusinya terhadap pembangunan nasional dan Kalimantan Tengah sangat dihargai. Ia memimpin pendirian dan pembangunan Kota Palangkaraya di sekitar Desa Pahandut, yang kemudian menjadi ibu kota Kalimantan Tengah.

Tjilik Riwut meninggal pada 17 Agustus 1987 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya.

Pada tahun 1998, Presiden RI memberikan Bintang Mahaputra Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional kepada Tjilik Riwut. Selain sebagai pejuang, ia juga dikenal sebagai pemikir, penulis, dan penggerak pembangunan bagi etnis Dayak, dengan banyak karya tulis yang membuktikannya. Karyanya yang tersebar di berbagai buku akan selalu mengenangnya.

Ada frasa Latin "Verba volant, scripta manet". Kata-kata terbang, yang tertulis tetap abadi" mempertegas pentingnya literasi dan penulisan dalam memastikan bahwa gagasan, pengetahuan, dan sejarah tetap ada untuk masa depan. 

Tjilik Riwut, sebagai seorang penulis, telah menggambarkan dengan jenggot bagaimana karya tulisnya membawa makna dan warisan yang abadi. Beberapa buku berharga yang telah ia tinggalkan mencakup:

  • Sejarah Kalimantan (1952).
  • Maneser Panatau Tatu Hiang (1965).
  • Kalimantan Membangun (1979).

Dari sekian banyak buku dan kumpulan tulisannya karya tulis Tjilik Riwut dapat dikategorikan ke dalam 3 bidang utama:

  1. Perang Kemerdekaan di Kalimantan: Buku ini menceritakan peran penting Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, dalam perang kemerdekaan Indonesia. Tjilik Riwut menggambarkan perjuangan rakyat Dayak dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan detail yang memukau.
  2. Catatan Perjalanan Jurnalistik: Buku ini berisi pengalaman pribadi dan pengamatan Tjilik Riwut selama perjalanannya sebagai seorang jurnalis. Ia mendokumentasikan kondisi dan kehidupan masyarakat Dayak, menghadirkan pandangan yang mendalam tentang budaya dan perjuangan mereka.
  3. Kalimantan dan Dayak: Catatan Sejarah: Karya ini adalah suatu kumpulan catatan sejarah yang melacak perkembangan Kalimantan dan etnis Dayak selama periode penting, terutama sehubungan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Buku ini menjadi referensi berharga bagi mereka yang ingin memahami akar sejarah dan identitas Dayak.

Karya-karya lainnya selain buku-buku utama di atas, Tjilik Riwut juga telah menulis banyak artikel, esai, dan catatan-catatan lain yang menjelaskan berbagai aspek kehidupan dan budaya Dayak serta perjuangan mereka. 

Kumpulan karya-karya ini menjadi sumber informasi yang berharga bagi peneliti, sejarawan, dan para pecinta sastra.

Melalui karya-karya ini, Tjilik Riwut telah menciptakan warisan yang tak ternilai harganya bagi etnis Dayak dan seluruh bangsa Indonesia. Ia telah membuktikan bahwa literasi dan penulisan adalah alat penting untuk mempertahankan sejarah, melestarikan budaya, dan membagikan pengetahuan kepada generasi mendatang. 

Frasa "Verba volant, scripta manet" sangat relevan dalam konteks ini. Karena buku-buku dan tulisannya terus menginspirasi dan memberikan wawasan kepada generasi-generasi berikutnya. (Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel