Tampun Juah dalam Pita Suara dan Narasi Thomas Tion

Tampun Juah, asal, tanah, Dayak, Borneo, Iban, Bidayuh, Thomas Tion, Ketapang, Alloy, Albertus, Istiany, Sarawak, Dion Meligun, sejarah, Kanayatn

Tampun Juah, situs bersejarah itu.

PATIH JAGA PATI: Tampun Juah diakui sebagai "tanah semula jadi" oleh semua suku bangsa Dayak Kalimantan Barat dan Sarawak. Kecuali orang Kanayatn dan Ketungau Tesaek. Kanayatn mengaku mereka berasal dari Gunung Bawakng. Sedangkan Ketungau Tesaek dari Sukalanting, Labai Lawai.

Tampun Juah dalam syair dan lagu

Inilah sejarah Tampun Juah, dalam bahasa Dayak Ketapang, dialek Bidayuhik.

Nikmati suara dan lagunya yang indah, menawan, sekaligus jenaka ini:  TAMPUN JUAH

Dengan suara khas, srak-srak basah, Thomas Tion yang dikenal sebagai seniman serba-bisa dari Ketapang, mengarang syair dan menggubah lagu ini.

Thomas Tion: seniman serba-bisa. FB ybs.

Bahasa yang digukanannya khas dialek Ketapang, rumpun Dayak Bidayuh. Semua Dayak Bidayuh memahami kata-katanya.

Syair dalam lagu "Tampun Juah", yang didendangkan Tion ini, benar adanya menggambarkan fakta sejarah. Hanya saja, dimengerti kata-katanya oleh orang Bidayuhik saja.

Di Mana Tampun Juah?
Wilayah Tmpun Juah di Kalimantan Barat menandai kekayaan sejarah, khususnya bagi suku bangsa Dayak. 

Merunut kepda hasil penelitian dan publikasi Alloy, Albertus, dan Istiany (2008), jumlah klan besar suku Dayak di wilayah ini mencapai 151. 

Tmpun Juah bukan hanya sebuah situs sejarah, tetapi juga "tembunik" yang menjadi asal usul kehidupan dan dihiasi oleh legenda anak-anak Dayak sepanjang masa.

Tampun Juah dijuluki sebagai "tanah semula jadi". Situs yang menjadi akar tempat tinggal suku Dayak Kalimantan Barat. Meskipun terdapat keyakinan dari orang Kanayatn dan Ketungau Tesaek bahwa asal mereka berasal dari Gunung Bawakng dan Labai Lawai, daerah Sukalanting.

Lokasi tepatnya saat ini berada di Desa Lubuk Sabuk, Kecamatan Sekayam, Kalimantan Barat, antara batas Mongkos dan wilayah Sarawak, Malaysia. Pada tahun 2018, lokasi ini telah diakui sebagai Hutan Adat oleh Negara dengan luas total 651 hektar.

Situs bersejarah Tampun Juah ini, kecuali bagi suku Kanayatn dan Dayak di Sarawak, Malaysia, dianggap sebagai "Tanah Semula Jadi" yang telah ada sejak penciptaan langit dan bumi. 

Tampun Juah, yang dulu disebut sebagai Tembawang, merupakan tempat penting bagi orang Dayak, khususnya kaum Iban. Menurut mereka, nenek moyang mereka tinggal di sini ribuan tahun yang lalu sebelum migrasi dalam tiga musim. 

Dionisius Meligun, seorang pastor paroki, menjelaskan bahwa rumah panjang orang Iban dahulu memiliki panjang 77 kali sinar damar.

Situs bersejarah
Meskipun kini Tampun Juah dikelilingi oleh kebun sawit, penting untuk mencatat bahwa kondisi alaminya perlu dilestarikan. 

Sungai Tampun Juah, yang dahulu lebarnya sekitar 30 meter dan bisa dilayari, kini mungkin menghadapi risiko kerusakan akibat aktivitas manusia. 

Dion Meligun, salah seorang budayawan bergelar akademik Licenciat dari Roma menyatakan bahwa upaya pelestarian memerlukan keputusan politik yang kuat dan tindakan nyata.

Situs bersejarah  ini, kecuali bagi suku Kanayatn dan Dayak di Sarawak, Malaysia, dianggap sebagai "Tanah Semula Jadi" yang telah ada sejak penciptaan langit dan bumi. 

Bukti keberadaan sejarah Dayak
Dalam dunia, dan ilmu, sejarah wajib membuktikan: artefak, situs,  peristiwa, serta tokoh sejarah.

Sejarah Dayak Kalbar dari Tampun Juah, tidak bisa terbantah! Setting (waktu dan tempat) juga bisa dibuktikan.

Tampun Juah menjadi bukti keberadaan sejarah Dayak Kalimantan Barat, dan kelemahan umumnya bangsa-bangsa dalam merawat situs-situs bersejarah seperti ini perlu diakui dan diperbaiki. 

Meski mampu membangun, tantangan utama seringkali adalah menjaga dan merawat dengan konsistensi serta kepedulian terhadap warisan budaya yang berharga ini.

Sejarah dan situs Tampun Juah inilah yang dinarasikan sekaligus didendangkan oleh Tion dalam lagu "Tampun Juah" ini.

(Pohan Sukacitakami)

LihatTutupKomentar
Cancel