75 Tahun Karya Misi Suster St. Agustinus dari Kerahiman illahi (OSA) di Indonesia

Karya, Misi, Suster St. Agustinus, Kerahiman illahi, OSA, Indonesia, Ketapang, Kayong
Pemimpin umum Suster St. Agustinus dari Kerahiman illahi (OSA) mencanangkan gong, tanda dimulainya Tahun Yubileum.

PATIH JAGA PATI : Sore itu, Rabu, 6 Desember 2023.

Sejumlah undangan hadir bersama Komunitas Para Suster St.Agustinus dari Kerahiman Allah atau Ordo Santo Agustinus (OSA). Mereka larut sekaligus haru dalam misa meriah yang dipimpin oleh Uskup Ketapang, Mgr.Pius Riana Prabdi, didampingi oleh P.Damianus Sepo,CP dan 2 Pastor St. Agustinus (OSA), yaitu Pastor Yohanes, OSA dan P.Frans Mba,OSA. Ujud Misa hari itu adalah Perayaan Ulang Tahun ke- 74 karya Misi Para Suster St. Agustinus (OSA) di Indonesia.

Baca Song Po Moi: Katolik Pertama Di Ketapang

Pada momen perayaan HUT ke-74 ini juga digunakan untuk pencanangan Tahun Yubileum 75 Tahun Karya Misi Suster St. Agustinus (OSA) di Tanah Kayong Ketapang dan Indonesia, yang dimulai dari tanggal 6 Desember 2023 sd. 6 Desember 2024 atau sepanjang kurun waktu satu tahun penuh. 

Berjalan bersama

Tema Tahun Yubileum ini adalah Berjalan Bersama : Satu hati, satu semangat dan satu misi mewujudkan Agustinian yang berkerahiman di Era Milenial. Pencanangan Tahun Yubileum ini ditandai dengan pemukulan Gong yang dilakukan oleh Pemimpin Umum Para Suster OSA Indonesia, yaitu Sr. Ignatia,OSA, sebelum berkat penutup dalam misa itu.

Dalam kotbahnya, Mgr.Pius Riana Prabdi menganalogikan usia 75 tahun para Suster OSA itu sebagai usia pensiun seorang uskup, jadi merupakan usia matang dalam berkarya. 

Baca Pastor Lintas 75 Tahun: Untuk Gereja Dan Khususnya Umat Paroki Tembelina

Usia 75 tahun untuk sebuah lembaga religius, kata Mgr Pius adalah waktu yang tepat untuk kembali membuat roadmap atau peta jalan untuk periode berikutnya sehingga kelemahan, kekuatan, peluang dan tantangan yang akan dihadapi dapat diantisipasi dengan baik, berdasarkan sikap kerendahan hati, dibalut dengan bingkai wajah penuh kerahiman Allah,

Sr.Ignatia,OSA sebagai Pemimpin Umum para Suster OSA pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa dalam kurun waktu 75 tahun perjalanannya, Lembaga yang dipimpinnya telah berusaha untuk terus “on the track” sesuai dengan cita- cita 5 pionir yang datang ke Ketapang pada tahun 1949.

Hal itu selaras dengan pesan Muder Vincentia, “Saya telah meletakkan pondasi, supaya setiap orang memperhatikan baik-baik bagaimana ia melanjutkan karya itu (I Kor.3: 10 -11).

Sejarah Lahirnya Suster OSA Heemstede, Belanda

Dari Website nya, Kongregasi Suster Santo Augustinus Dari Kerahiman Allah didirikan oleh Pastor Hermanus Lambertus Spoorman yang dilahirkan di kota Leiden Belanda pada tanggal 6 November 1837. Ia menjalani masa studi di seminari Hageveld dan Warmond dan pada tanggal 15 Agustus 1860 ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Haarlem. P.Hermanus Lambertus Spoorman pernah bertugas di beberapa paroki hingga akhirnya dipindahkan ke Delft. Sikap dan pembawaan Pastor ini memikat hati banyak orang dan membimbing mereka ke arah kehidupan kristiani. 

Pada abad XIX perawatan orang sakit dan lanjut usia sangatlah menyedihkan. Dihadapkan dengan situasi seperti itu Pastor Spoorman memutuskan untuk mendirikan sebuah wisma bagi orang-orang lanjut usia yang cukup berada dengan maksud agar penghasilan yang didapat nantinya dapat digunakan untuk menolong orang-orang miskin. 

Namun, ia menyadari bahwa hal ini tak dapat dilakukan sendiri, maka ia memohon bantuan kepada para Suster Augustines dari Dendermonde di Belgia. Maka diutuslah tiga suster ke Delft di bawah pimpinan Muder Apollonia. Kemudian sesuai kebutuhan, diutus lagi sejumlah suster untuk membantu dalam karya Kesehatan ini..

Seiring berjalannya waktu banyak pemudi dari Belanda yang ingin mengabdikan dirinya sebagai Suster Augustines, maka pada tanggal 27 Juli 1888 atas persetujuan Uskup Haarlem dan Pastor Spoorman serta Dewan Pimpinan dari Dendermonde Belgia, maka didirikanlah Kongregasi “Para Suster Augustines Yang Berbelas Kasih dari Delft” yang akan hidup sesuai dengan aturan atau Regula Santo Augustinus. 

Dengan berdikarinya Kongregasi ini di Delft maka semua suster dari Belgia yang diutus ke Belanda ditarik kembali ke negeri asalnya, kecuali Sr. Vincentia yang ditunjuk menjadi Pimpinan Umum Suster Augustines di Delft yang pertama. Diputuskan pula bahwa Pastor Spoorman menjadi Pastor Direktur Kongregasi.

Baca Sillekens Dan Pujaraharja: Mengenang Dua Uskup Ketapang

Muder Vinsentia meninggal dunia pada Mei 1904. Kenangan akan beliau selalu hidup dari pesan yang ditinggalkannya yang diambilnya dari I Kor 3: 10 – 11: “Saya telah meletakkan pondasi, supaya setiap orang memperhatikan baik-baik bagaimana ia melanjutkan karya ini”. Lima tahun kemudian tepatnya pada tanggal 24 Mei 1909 Pastor Spoorman juga meninggal dunia dan dimakamkan di tengah-tengah umat yang dicintainya.

Karya para suster OSA ini terus berkembang dan setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya pada tanggal 11 Oktober 1948 para suster ini pindah ke Heemstede dan perpindahan itu diresmikan setahun kemudian yakni pada tanggal 7 Oktober 1949. Sejak saat itu para suster lebih dikenal sebagai Kongregasi Suster Augustines dari kerahiman Allah dari Heemstede. 

Diundang berkarya di Ketapang

Pada tahun 1949 ini pula di bawah kepemimpinan Sr. Agneta sebagai Pemimpin Umum, atas permohonan Mgr. Van Valenberg, OFM.Cap (Vikaris Apostolik – Pontianak) diutuslah lima Suster Augustines ke Ketapang Kalimantan Barat Indonesia dan mereka tiba di pelabuhan Ketapang pada tanggal 6 Desember 1949. Kelima suster pioneer tersebut adalah Sr. Eupharasia, OSA, Sr. Desideria,OSA, Sr. Maria Paulo,OSA, Sr. Prudentia,OSA dan Sr. Mathea, OSA.

Kelima suster pioneer.

Di Ketapang, Para suster ini menyewa sebuah rumah penduduk sebagai tempat komunitas perdana dan berkarya di Rumah Sakit Pemerintah, RSUD Dr. Agoesdjam, dimana pada waktu itu pengetahuan keperawatan dan situasi masyarakat setempat secara formal masih sangat minim. 

Selain berkarya di Rumah Sakit, para suster juga memberikan keterampilan menjahit, memasak, mengurus rumah tangga, dan pekerjaan tangan lainnya bagi para ibu dan para pemudi. 

Kegiatan tersebut sangat bermanfaat dan makin banyak peminatnya sehingga diputuskan untuk membeli sebidang tanah dan membangun biara, asrama, serta sekolah KRT (Ketrampilan Rumah Tangga) dalam satu kompleks. 

Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 1957 di Jalan Jend. Sudirman dan sekarang berdampingan dengan Kantor Bupati Ketapang. Sejak saat itu karya para suster terus berkembang dan kebutuhan akan tenaga pelayanan makin bertambah, sehingga atas kebijakan Dewan Kongregasi di Belanda, diutus lagi beberapa suster yang profesional dibidang kesehatan maupun pendidikan. 

Dengan demikian jumlah suster Belanda yang pernah diutus ke Indonesia ada 21 orang. Bersama para suster pribumi mereka dengan gigih merintis karya pelayanannya sampai ke daerah pedalaman Ketapang, seperti daerah Tumbang Titi dan Menyumbung, dan juga ke Tumpang (Malang) – Jawa Timur.

Pendirian Novisiat Thagaste

Cara hidup dan pelayanan sosial para suster yang tinggi dan penuh kasih ini membuat kehadiran para suster memikat hati para pemudi untuk menjadi suster Augustinus. Maka atas kesepakatan Dewan Kongregasi di Belanda dan Uskup Sillekens CP, pada tahun 1955 dibukalah Novisiat untuk lima gadis pribumi yang masuk biara. 

Dalam perkembangan, pada tahun 1984 dibangun rumah postulat dan novisiat baru yang diberi nama THAGASTE (Tempat kelahiran St. Augustinus – Afrika Utara di mana St. Augustinus membentuk komunitas perdana). 

Tahun 1990 Kongregasi mengalami perkembangan pesat dalam pertambahan anggota dan menerima calon dari seluruh Indonesia, yakni : Kalimantan, Flores, Timor, Sumatera, Toraja, Irian Jaya (Papua) dan Maluku. Seiring dengan bertambahnya jumlah anggota maka dikembangkan pula karya pelayanan ke beberapa daerah pedalaman Ketapang Kalimantan Barat, yakni: di daerah Manjau, Tanjung, dan Sandai. Selanjutnya dibuka pula komunitas di Paya Kumang (Ketapang), Semarang (Jawa Tengah), dan Sorong-Manokwari (Papua Barat), dengan demikian gedung Novisiat terus mengalami perluasan. 

Berdikari, lepas dari Provinsi Heemstede, Belanda

Pada tanggal 9 Agustus 1992 Para Suster dari Kongregasi/ Ordo Santo Agustinus (OSA)  Indonesia ini dinyatakan BERDIKARI atau dilepaskan dari Suster OSA di Belanda sebagai Induk. Pemimpin Umum Sr. Tarcies Wijngaard selaku wakil dari Dewan Pimpinan Kongregasi Suster St. Augustinus Belanda secara resmi menyerahkan Kongregasi Suster St. Agustinus dari Kerahiman Allah – Ketapang kepada Dewan pimpinan Kongregasi Indonesia yang diwakili oleh Sr. Albertina Nai, OSA (alm). 

Serah terima ini merupakan tonggak sejarah dimulainya Kongregasi Suster St. Agustinus dari Kerahiman Allah yang berpusat di Ketapang – Kalbar, menjadi Kongregasi Diosesan dibawah reksa Uskup Ketapang. Sejak tahun 1979 – 2003 para suster dari Belanda satu persatu mulai mengundurkan diri dari Indonesia dan kembali ke Negeri Belanda. 

Sampai saat ini para Suster St. Augustinus tersebar di beberapa keuskupan, yakni: Keuskupan Ketapang, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Malang, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Agung Semarang, dan Keuskupan Sorong – Manokwari.

Karya Para Suster OSA Indonesia

Pada tahun 2024 ini, menurut Pemimpin Umum, Sr. Ignatia OSA, jumlah anggota komunitas Suster OSA yang sudah berkaul berjumlah 122 orang. Mereka berkarya di bidang Kesehatan dengan mengelola RS. Fatima Ketapang, RS Sumber Sentosa, Tumpang, Malang, Jawa Timur, RSIA Sandai dan beberapa Klinik. 

Di bidang Pendidikan, mereka memiliki Yayasan Persekolahan yang mengelola Beberapa TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Di samping itu, mereka juga mengelola beberapa asrama dan terlibat di bidang sosial kemasyarakatan serta pastoral di Paroki.

Setelah Misa meriah sore itu, acara dilanjutkan dengan pelepasan Balon Udara yang bertuliskan “Tahun Yubileum 75 Tahun Karya Misi Suster OSA Indonesia”. 

Acara itu digelar di depan Gedung Thagaste, dilepas oleh 5 anggota Dewan Kongregasi (Sr.Ignatia,OSA,dkk) dan Ketua Panitia Pelaksana Tahun Yubileum, Heronimus Tanam, disaksikan oleh semua umat yang hadir. 

Selamat melaksanakan perhelatan Tahun Yubileum 75 Tahun Karya Para Suster OSA di Indonesia.

Semoga dalam menyongsong 100 Tahun berkarya berikutnya, Suster OSA semakin dikenal, dicintai dan dirasakan manfaat kehadirannya bagi seluruh masyarakat Indonesia yang dilayani. 

(R.Musa Narang)



LihatTutupKomentar
Cancel