Publikasi Asing Tidak Akurat dalam Penulisan Topografi dan Istilah Lokal: Penulis Dayak Dipanggil Mengoreksi dan Memperbaiki (1)

Uloc Lajer, Ulu Aik, literasi, penulis asing, tidak akurat, literasi, penulis, Dayak
Dokumen: Alat bukti sejarah.

Banyak terdapat tidak akurat terutama publikasi orang nonDayak terkait topografi, nama rupa bumi, istilah, selain pemahaman yang komprehensif tentang eksistensi dan perikehidupan manusia Dayak. 

Penduduk asli Borneo yang kini populasinya ditengarai tidak kurang dari 8 juta, di masa lampau memang kurang dalam hal literasi. Sedemikian rupa, sehingga menjadi "objek penelitian" orang asing, tanpa orang Dayak bisa menyanggah, minimal mengimbangi post truth dan konstruk yang mereka bangun.

Kini Dayak sudah literat. Andakah orang yang terpanggil "menulis dari dalam" tentang Dayak?

Baca 101 Tokoh Dayak Untuk Patih Jaga Pati

Ilustrasi kita ini hanya nokta kecil dari tidak akuratnya penulis asing. Banyak contoh lain yang nanti dibahas bersambung. Bahkan antropolog sekelas Dr. Anton Nieuwenhuis, karyanya habis "ditelanjangi" Ding Ngo, seorang pastor Dayak yang sempat mengenyam pendidikan di Negeri Belanda. Atau karya Karl Helbig yang poin kontennya berkurang banyak akibat banyak kesalahan menulis nama topografi. 

Itulah "vorurteil". Yakni istilah dalam bahasa Jerman yang berarti "prasangka" atau "praduga". Istilah ini mencakup sudut pandang, isi kepala, dan pengetahuan seseorang sebelum mereka membuat penilaian atau pendapat tentang sesuatu.

Dalam konteks ini, "vorurteil" mengacu pada pandangan atau pemahaman yang ada sebelum seseorang benar-benar memahami atau memeriksa fakta dengan cermat. Ini dapat mencakup prasangka pribadi, keyakinan yang telah terbentuk sebelumnya, atau pemahaman yang mungkin tidak sepenuhnya akurat.

Penting untuk diingat bahwa prasangka atau "vorurteil" ini dapat mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Untuk menghindari membuat penilaian yang tidak adil atau tidak berdasar, penting bagi seseorang untuk mengakui prasangka mereka dan berusaha untuk mencari informasi yang akurat dan lengkap sebelum membuat keputusan atau membentuk pendapat.

Dalam konteks perbedaan antara lidah atau ucapan orang asing (terutama Barat) dan orang lokal di Nusantara, dapat ditemukan contoh konkret dalam teks berbahasa Belanda yang membahas Kerajaan Ulu Aik. Dalam teks tersebut, tertulis "Raja Uloc Lajer", yang diyakini merupakan hasil dari "keseleo" lidah sang penulis ketika mencoba mengucapkan "Ulu Aik". 

Kini Dayak sudah literat. Andakah orang yang terpanggil "menulis dari dalam" tentang Dayak?

Fenomena ini menggambarkan kelemahan yang mendasari banyak narasi dan publikasi orang asing tentang wilayah Nusantara, terutama dalam hal penulisan topografi, nama-nama orang, dan karakteristik geografis.

Namun, kelemahan ini juga memberi pengertian akan pentingnya perspektif lokal dalam menyusun narasi yang akurat. Peran aktif masyarakat Dayak dalam penulisan sejarah dan dokumentasi budaya mereka menjadi fundamental. 
Baca Dayak Krio

Dengan terlibat secara langsung dalam proses ini, mereka mampu menyusun ulang informasi yang keliru atau meragukan mengenai komunitas dan wilayah mereka, yang seringkali terdapat dalam literatur asing.

Tetapi tujuan ini melampaui sekadar koreksi sejarah lokal. Hal ini juga mencakup kebutuhan akan berbagai sudut pandang dalam era di mana kebenaran kerap dipertanyakan. 

Dengan menjadi narator dari dalam, masyarakat Dayak mampu memberikan perspektif yang berbeda dan berharga yang mampu menyeimbangkan publikasi yang mungkin mengandung ketidakakuratan atau bias.

Upaya ini juga merupakan bentuk perlindungan terhadap perubahan naratif yang semakin sering terjadi dalam dunia informasi saat ini. Melalui partisipasi aktif dalam penulisan dan dokumentasi, masyarakat Dayak membantu menjaga integritas budaya dan sejarah mereka sendiri serta berperan penting dalam menghadapi tantangan era "post-truth" yang kerap muncul.

Dalam konteks ini, "vorurteil" mengacu pada pandangan atau pemahaman yang ada sebelum seseorang benar-benar memahami atau memeriksa fakta dengan cermat. Ini dapat mencakup prasangka pribadi, keyakinan yang telah terbentuk sebelumnya, atau pemahaman yang mungkin tidak sepenuhnya akurat.

Penting untuk diingat bahwa prasangka atau "vorurteil" ini dapat mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Untuk menghindari membuat penilaian yang tidak adil atau tidak berdasar, penting bagi seseorang untuk mengakui prasangka mereka dan berusaha untuk mencari informasi yang akurat dan lengkap sebelum membuat keputusan atau membentuk pendapat.

Pandangan Patih Jaga Pati mengenai pentingnya literasi membantu masyarakat Dayak membangun dan memperkaya identitas budaya mereka. Literasi tidak sekadar keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi jembatan antara generasi muda dengan warisan leluhur mereka. Patih Jaga Pati mengamati bahwa literasi memiliki potensi luar biasa untuk menghasilkan konten media yang seimbang dan bermakna.

Dalam kehidupan budaya Dayak, literasi memiliki daya untuk membentuk citra dan kebudayaan Dayak secara benar, baik, dan bermakna. Lewat tulisan, cerita, dan karya sastra lainnya, budaya Dayak dapat diceritakan secara otentik dan mendalam. Ini tak hanya memungkinkan masyarakat Dayak merawat serta memperbaharui budaya mereka, tetapi juga memberi kesempatan untuk berbagi cerita kepada dunia.

Pentingnya literasi tercermin dalam kemampuannya dalam menghasilkan konten media yang berimbang dan bernilai. Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan suatu budaya di mata dunia. Dengan literasi yang kuat, masyarakat Dayak mampu menghasilkan konten-konten yang memperkenalkan keberagaman budaya mereka secara akurat dan mendalam. Ini membuka peluang untuk membangun citra Dayak yang lebih seimbang, mengatasi stereotip, dan memperkaya pemahaman global mengenai budaya Dayak.

Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh.

Dalam pada itu, peran aktif Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh dan fokus pada literasi menjadi pilar-pilar yang saling terhubung dalam upaya melestarikan, memperkuat, dan mempromosikan budaya Dayak. 

Melalui literasi dan media, citra budaya Dayak dapat diperbaharui, dijaga secara akurat, dan diperkenalkan secara global dengan cara yang otentik dan berarti.*)

LihatTutupKomentar
Cancel