Gaharu dan Teknik Inokulasi Pecepatan Hasil Panennya (10)

gaharu, akselerasi, Nuh, Sengoret, Pusat Damai, Sanggau, inokulasi

  • M. Nuh (kiri) dan penulis di latar depan kebun-artifisial gaharu miliknya di desa Sengoret.
Di era kemajuan dalam bidang pertanian dan produksi tanaman pangan, ditemukan sebuah terobosan. Teknik yang memungkinkan percepatan panen gaharu yang dikenal sebagai salah satu komoditas berharga. 

Teknik revolusioner ini, menggabungkan penggunaan inokulan berupa jamur dan nutrisi cair untuk meningkatkan produktivitas gaharu secara signifikan.

Teknik akselerasi ini telah dipraktikkan di sebuah desa bernama Sengoret, yang terletak dekat dengan Pusat Damai, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. 

Di desa Sengoret terdapat seorang ahli yang telah menjadi pionir dalam teknik akselerasi panen gaharu ini, dan namanya adalah Muhammad Nuh. Nuh telah membuktikan kepiawaiannya dalam menerapkan teknik ini sejak pertengahan tahun 1990-an, di lahan kebun pribadinya.

Teknologi inokulasi memungkinkan produksi gaharu dapat direncanakan dan dipercepat dengan menginduksi pertumbuhan jamur pembentuk gaharu pada pohon yang menghasilkannya.

Dengan pengetahuannya yang mendalam tentang budidaya gaharu, Nuh berhasil menciptakan metode yang menggabungkan inokulasi jamur dan nutrisi cair untuk meningkatkan pertumbuhan pohon gaharu secara signifikan. Teknik ini tidak hanya mempercepat proses produksi gaharu, tetapi juga meningkatkan kualitasnya. Hasil panen gaharu yang dihasilkan dari teknik akselerasi Nuh telah menjadi sorotan di kalangan petani dan pengusaha gaharu.

  • Penampakan kebun gaharu M. Nuh.
Prestasi Nuh di bidang akselerasi panen gaharu telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di wilayah tersebut. Seiring dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya konservasi sumber daya alam dan keberlanjutan, teknik akselerasi ini memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Hal ini memberikan harapan baru bagi industri gaharu dan masyarakat desa Sengoret, serta menjadi teladan bagi upaya-upaya serupa di seluruh Indonesia.

Hukum dagang Permintaan meningkat, harga naik
Hukum dagang berlaku pada gaharu pada ketika ini.

Meningkatnya permintaan gaharu dalam tiga dasawarsa terakhir telah menyebabkan kelangkaan produksi gubal gaharu alamiah. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar, harga jual yang tinggi, serta pemanenan berlebihan yang masih mengandalkan alam sebagai sumbernya. Akibatnya, beberapa jenis gaharu, seperti Aquilaria dan Gyrinops, kini sudah masuk dalam lampiran Convention on International Trade on Endangered Species of Flora and Fauna (CITES).

Untuk mencegah kepunahan jenis gaharu ini dan menjaga keberlanjutannya, langkah-langkah konservasi menjadi sangat penting, baik di dalam habitat (in-situ) maupun di luar habitat (ek-situ). Selain itu, budidaya pohon yang menghasilkan gaharu juga perlu dipromosikan. Namun, upaya ini seringkali menghadapi berbagai kendala. Meskipun ada usaha konservasi dan budidaya yang dilakukan oleh lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan LSM konservasi, partisipasi masyarakat umum masih terbatas karena kurangnya insentif ekonomi.

Namun, prospek untuk mengembalikan gaharu sebagai komoditi yang berkelanjutan kembali terbuka dengan adanya teknologi rekayasa produksi gaharu. 

Dengan menggunakan teknologi inokulasi, produksi gaharu dapat direncanakan dan dipercepat dengan menginduksi pertumbuhan jamur pembentuk gaharu pada pohon yang menghasilkannya. Peningkatan produksi ini akan memberikan dampak positif pada pendapatan masyarakat petani, pengusaha gaharu, serta penerimaan pendapatan asli daerah dan devisa negara.

Di Indonesia, perdagangan gaharu melibatkan tiga jenis utama, yaitu gaharu dari Sumatera dan Kalimantan (Aquilaria malaccensis dan A. microcarpa), gaharu dari Papua, Sulawesi, dan Maluku (dikenal sebagai Aquilaria filaria), serta jenis gaharu Gyrinops yang lebih umum diproduksi di Nusa Tenggara. Perdagangan gaharu alam di Indonesia selama ini lebih bergantung pada distribusi ekologis ketiga jenis gaharu ini.

Badan Litbang Kehutanan, khususnya Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi, telah mengembangkan inokulan berbentuk cairan dari jamur (fusarium spp.) yang dapat digunakan oleh kelompok tani gaharu. Inokulan ini dapat dipesan melalui pendampingan petugas yang telah ditunjuk.

Riset pertama tentang bioinduksi gaharu telah dilakukan oleh Forda sejak tahun 1984, dan teknologi ini terus berkembang. Teknologi generasi kedua, yang diperkenalkan pada tahun 2004, menggunakan inokulan berupa jamur dan nutrisi cair. Teknologi ini memiliki beberapa keunggulan, termasuk lubang bor yang lebih kecil, tidak perlu ditutup, tahan terhadap air, dan hasil yang efektif dan efisien.

Proses inokulasi melibatkan beberapa persyaratan, termasuk pohon penghasil gaharu yang sehat, diameter pohon yang memadai, keberadaan bunga atau buah pada pohon, serta kondisi cuaca yang tepat. Mata bor dengan diameter 3 mm digunakan untuk penyuntikan inokulan sebanyak 0,5 - 1 ml ke pohon. Lubang yang dihasilkan tidak perlu ditutup setelah inokulasi.

Inokulasi jamur merupakan langkah penting dalam meningkatkan produksi gaharu secara berkelanjutan dan mengurangi tekanan terhadap populasi gaharu di alam. 

Dengan demikian, upaya-upaya ini diharapkan dapat menjaga warisan alam Indonesia yang berharga ini untuk generasi mendatang. (Masri Sareb Putra)



LihatTutupKomentar
Cancel