Yansen TP, Masri, dan Pepih: Pegiat Literasi Nasional Menjalin Kerja Sama di Jakarta

literasi, nasional, Espelindo, Masri, Yansen,Pepih, Batu Ruwut Writing Camp, Espelindo, Beropinilah!

 

Dari ki-ka pembaca: Masri, Yansen, dan Pepih: pegiat dan penganjur literasi nasional.

Di sebuah mal di Bintaro, Jakarta.

Atmosfer literasi menguar, memancarkan aromanya seiring dengan wangi kopi di Starbucks, Bintaro Jaya Xchange Mall. Pada 25 November 2023, suasana penuh keceriaan dan semangat menyertai pertemuan tiga serangkai literasi Yansen TP, Masri, dan Pepih.

Api literasi menyala tetap

Sayang sekali, Dodi, Direktur lembaga pendidikan, tidak dapat bergabung dalam pertemuan tersebut karena kewajibannya yang mendesak.

Baca Patih Jaga Pati : Simbol Kerajaan Ulu Aik Dan Dayak Ada Padanya

Meskipun begitu, antusiasme tetap mengiringi ketiganya menyambut pertemuan ini. Bintaro Jaya menjadi saksi kehangatan pertemuan yang penuh ide dan semangat untuk terus mengembangkan projek-projek literasi yang telah mereka rancang bersama.

Pertemuan di mal ini menjadi peluang emas untuk mendiskusikan proyek-proyek mendatang, merencanakan kegiatan literasi, dan berbagi pengalaman. Yansen TP, yang saat itu berada di Jakarta, membawa semangat dan inspirasi baru dari pengalaman literasinya. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, ketiganya telah membuktikan bahwa kerjasama mereka memberikan dampak positif dalam memajukan literasi di Indonesia.

Kolaborasi bukan kompetisi

Diskusi-diskusi hangat disertai dengan canda tawa menciptakan suasana yang santai, namun penuh tujuan. Mereka membahas potensi kolaborasi dengan penerbit lokal, mengembangkan program literasi untuk masyarakat setempat, dan merencanakan kehadiran mereka dalam berbagai acara literasi di masa mendatang.

Walaupun Dodi tidak dapat hadir secara fisik, kehadiran virtualnya melalui panggilan video memberikan kontribusi berharga dalam pembahasan. Ide-ide yang diusulkan dan rencana yang dibuat tidak hanya mencerminkan keberlanjutan semangat literasi yang mereka anut, tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan waktu dan lokasi tidak menghalangi kolaborasi yang efektif.

Baca Patih Jaga Pati : Simbol Kerajaan Ulu Aik Dan Dayak Ada Padanya

Seiring matahari perlahan tenggelam di langit Bintaro yang ditelan hujan lebat, pertemuan ini membawa harapan baru dan energi positif untuk perjalanan literasi mereka. 

Tiga serangkai ini meninggalkan mal dengan keyakinan bahwa upaya bersama mereka akan terus memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan literasi di Indonesia.

Meluncurkan buku baru

Pertemuan mereka selalu diwarnai oleh antusiasme dan keceriaan setiap kali ada salah satu dari mereka yang meluncurkan buku baru. Tradisi ini menjadikan momen tersebut lebih dari sekadar acara biasa; ini adalah ajang perayaan pencapaian dan inspirasi. Sebagaimana biasanya, siapa pun yang memiliki buku baru, membawa oleh-oleh yang istimewa: buku tersebut.

Dalam suasana hangat pertemuan kali ini, kegembiraan melingkupi ruangan ketika Pepih hadir dengan buku terbarunya yang berjudul Beropinilah!

Buku ini dianggap sebagai karya baru yang menyajikan pemikiran dan pandangan segar dari Pepih, salah satu anggota dari empat sekawan literasi. Dalam setiap halamannya, buku ini mengandung aroma pemikiran kreatif dan kebijakan hidup positif yang menjadi ciri khas Pepih.

Espelindo

Yansen dan Masri, dua anggota Espelindo dengan tulus menyambut kedatangan buku terbaru dari Pepih. Mereka tidak hanya rekan sejawat, melainkan teman yang mengapresiasi dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan literasi mereka.

Baca Patih Jaga Pati: Balai Kepatihan Legasi Untuk Suku Bangsa Dayak

Pepih, dengan bangga dan gembira, menandatangani bukunya untuk keduanya. Setiap tanda tangan bukan hanya tanda kehadiran fisik, melainkan juga simbol persahabatan dan dukungan dalam dunia literasi yang mereka bangun bersama.

Selain tanda tangan, kata-kata berharga yang ditulis oleh Pepih di setiap buku memberikan sentuhan pribadi dan makna mendalam. Kata-kata itu seperti mutiara yang bersinar di lautan kata-kata, memberikan pesan positif, inspirasi, atau mungkin cerita di balik proses kreatif penulisan buku tersebut.

Buku Beropinila! tidak hanya menjadi tambahan berharga dalam koleksi literasi mereka masing-masing, tetapi juga menjadi wujud konkret dari semangat dan dedikasi mereka terhadap pengembangan diri dan masyarakat melalui literasi.

Setiap pertemuan mereka bukan hanya momen untuk berbagi ide, tetapi juga momentum untuk merayakan dan memberdayakan satu sama lain dalam perjalanan panjang menuju kemajuan literasi di Indonesia.

Legasi Batu Ruwut Writing Camp

Pada kesempatan ini, Empat Sekawan menghindari satu diskusi mengenai kelanjutan publikasi buku yang ditulis oleh 14 peserta Batu Ruwut Writing Camp.

Baca Institut Teknologi Keling Kumang Akan Launching 50 Buku Ber-ISBN Sekaligus Catat Rekor MURI

Naskahnya, dengan ketebalan lebih dari 200 halaman, saat ini berada dalam tahap pracetak. Desain sampulnya sudah selesai.

Sementara itu, kontennya tinggal menunggu sentuhan terakhir dari Yansen TP, sebagai pemberi kata pengantar.

(Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel