Dayak Diaspora Kalimantan Barat di Jakarta : Riwayatmu Ini

Dayak, Kalimantan Barat, Jakarta, FDKJ, fighting spirit, diaspora, ngayau, spirit, mengubah nasib, ibukota

 


PATIH JAGA PATI : Buku ini berpotensi mengguncang dunia akademik, terutama tentang asumsi bahwa orang luar yang datang ke Borneo, bukan sebaliknya.

Suatu bukti. Bahwa Dayak dari Borneo merantau jauh dari pulau. Meninggalkan insula. Naik kapal laut. Jauh hari sebelum terbuka bandara Soekarno-Hatta. 

Tekad kuat mengubah nasib

Segelintir Dayak Kalbar diaspora itu pun, membangun komunitas. Patut ditelisik, dan ditulis, sebagai sejarah Dayak juga. 

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo

Tentu tidak sebesar kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Terjanji yang menelan masa tidak kurang dari 40 tahun. Namun, ada sisi yang sama: berkanjang, bertahan, dibimbing kemauan keras dan kehendak untuk mengubah nasib menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Malu pulang kampung jika tidak sukses di ibukota!

Pendekatan seperti ini dapat memberikan perspektif baru terhadap sejarah migrasi dan perkembangan masyarakat di Borneo. 

Potensi untuk mengubah narasi sejarah ini bukan hanya dapat memberikan wawasan baru, tetapi juga dapat memicu diskusi dan penelitian lebih lanjut tentang asal usul dan perjalanan sejarah suku Dayak.

Dayak Diaspora Kalbar: Riwayatmu ini!

Buku ini mungkin menjadi langkah besar dalam memperluas pemahaman kita tentang sejarah dan identitas masyarakat Dayak, serta merangsang refleksi lebih lanjut tentang konsep-konsep yang telah diterima secara umum. 

Baca Cornelis : Kita Merahkan Kalbar!

Kiranya buku ini dapat menginspirasi. Sekaligus memantik diskusi ilmiah dan pemikiran kritis tentang identitas budaya dan sejarah masyarakat Dayak diaspora di ibukota Jakarta.

Cerita seru menundukkan Jakarta

Banyak pengalaman, yang sekaligus menjadi sajian gizi menu dari buku ini. Banyak yang datang dari Kalbar hanya membawa modal dengkul, hanya membawa --maaf- kolor dan satu dua helai baju, tanpa modal uang.

Forum Dayak asal Kalbar di Jakarta (FDKJ) in action. 


Tidak ada handai tolan, apalagi sanak famili di Jakarta. Di mana dan ke mana harus menginap?

Ada yang tidur di terminal. Ada yang sementara menumpang tidur di gardu hansip. Ada yang mandi di rumah ibadah, kemudian pergi lagi.

Tapi akhirnya, rata-rata mereka itu bisa hidup layak. Punya penghasilan dan kerja tetap. Bahkan ada yang sukses, sebagai pengusaha.

Inilah kisah Dayak diaspora asal Kalbar. Perjalanan, suka duka, derai tangis dan cucuran air mata mereka menundukkan ibukota Jaarta yang konon katanya jauh lebih kejam daripada ibutiri itu.

Bersabarlah akan kutundukkan Jakarta untukmu!
Hanya suara tawamu kudengar parau, Jakartadan nafasmu gemuruh gemerlapan
Seperti sengaja kau ciptakan untukk
Sementara, masih tersisa gema doa di mulutkuInikah Jakarta?
Hanya beginikah sikapmu Jakarta?
Atau aku yang salah bila kukatakan kau tak ramah?
--Ebiet G Ade

Sepenggal syair lagu penyanyi melankolis nan puitis asal kota Gudeq itu cukup melukiskan “kejamnya Jakarta”. Tak syak, Jakarta jadi legenda. Sejak zaman kompeni Hindia Belanda, Batavia menjadi kawahcandradimuka: mendidik orang yang berkanjang, tapi mendera para pecundang.

Baca Balai Kepatihan: Simbol Kedaulatan Dayak

Kini, kisah menarik dan menginspirasi datang dari sekitar 3.000 warga Dayak asal Kalbar yang mengejar impian mereka di Jakarta itu, bisa dinikmati. Diracik dengan bumbu penyadap kata yang tidak biasa, yakni gaya sastawi dalam berkisah. Diimbuh sejumput "garam gunung" Krayan, menjadikan kisah pergulatan Dayak diaspora Kalbar di Jakarta ini bacaan yang bukan saja menghibur, melainkan juga: menginspirasi.

Misalnya saja, di buku ini dikisahkan secuil pengalaman. Meski hanya membawa bekal kolor dan modal dengkul, mereka berani menantang arus debu jalanan ibu kota. Dari menjadi kuli bangunan, sales, hingga wartawan, mereka berhasil mengukir jejaknya dan menaklukkan Jakarta hingga "menjadi orang".

 Fighting spirit luar biasa

Perjalanan mereka tidaklah mudah. Banyak di antara mereka yang, begitu tiba di Jakarta, harus tidur di terminal, mandi, dan bermalam di masjid, bahkan rela tidak makan nasi selama 3 hari. Namun, semangat dan keteguhan hati mereka memungkinkan mereka tetap bertahan. Mereka memiliki harapan besar bahwa suatu hari nanti nasib akan berpihak pada mereka.

Kisah ini menjadi cermin perjuangan dan keberanian warga Dayak dalam meraih cita-cita di tengah kerasnya kehidupan di ibu kota. Meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan, mereka terus mengejar mimpi mereka dengan keyakinan bahwa kerja keras dan tekad yang kuat akan membawa mereka menuju keberhasilan. 

Spirit “ngayau”

Seiring berjalannya waktu, mungkin kisah-kisah inspiratif ini akan menjadi sumber motivasi bagi banyak orang untuk mengatasi rintangan dan mencapai impian mereka, sekaligus membangun jembatan antara budaya Dayak dan kehidupan perkotaan di Jakarta.

Inilah buku, yang secara dramatis mengisahkan suka duka, perjuangan,  serta sikap berkanjang anak-anak Dayak perantauan di Ibukota Negara. 

Spirit “ngayau”, pantang menyerah, yang diwariskan secara turun-temurun. Ada yang jenderal, pengusaha, milyarder, dan merambah usaha masa depan: bisnis e-commerse.

Pustaka yang wajib dibaca. Terutama bagi Anda, para pendaki (climber) yang menyukai tantangan dan tak pernah merasa puas berada pada zona nyaman.

(Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel