Martin Rantan, Bupati Ketapang, Penuhi Adat "Potong Garung Hompakng"

Martin Rantan, bupati, Ketapang, potong garung hompakng, pancokng buluh muda, potong pantan, potong garung hompakng, Alexander Wilyo

Martin Rantan, Bupati Ketapang, memenuhi Adat Dayak "Potong Garung Hompakng" sebelum memulai rangkaian acara lain pada Sabtu (04/05/2024) di Ketapang, Kalimantan Barat. Gambar: Ist.

PATIH JAGA PATI: Aral melintang bagi manusia Dayak dianggap sebagai lambang tantangan dan ancaman segala jenis risiko. Namun, dalam budaya Dayak, terdapat ritual dan tradisi yang digunakan untuk mengatasi berbagai halangan dan hambatan yang akan terjadi. 

Salah satunya adalah melalui ritual atau upacara adat yang dikenal sebagai "pancokng buluh muda" atau di beberapa tempat di Ketapang disebut "potong garung hompakng". 

Di Kabupaten Sanggau, ritual ini dikenal sebagai "pancokng buluh muda", sementara di Kalimantan Tengah, dikenal sebagai "potong pantan". Meskipun berbeda nama, makna simbolisnya tetap sama.

Sama yang lain adalah bahwa: buluh, tebu, atau garung yang akan dipotong: harus putus dalam sekali tebas. Jika sang pemotong sudah mahir, pasti berhasil dalam sekali tebas. Namun, untuk tamu agung yang belum terbiasa, lazimnya diberitahu terlebih dahulu. Ada "ilmu" atau tepat istilahnya "seni" memotong halangan itu hanya sekali tebas.

Pada hari ke-3: Adat "Potong Garung Hompakng"

Pada Hari ke-3 peresmian Balai Kepatihan Jaga Pati, Sabtu (04/05/2024) di Jalan S.Parman, Gg. Kelapa Gading No. 21 Ketapang, Bupati Ketapang, Martin Rantan, SH.,M.Sos, menghadiri acara tersebut.

Sebelum memasuki arena gelanggang Kepatihan, Martin Rantan memenuhi upacara adat "Potong Garung Hompakng".

Kemudian, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tari Panamu oleh Sanggar Kepatihan Jaga Pati, diikuti oleh pertunjukan pencak silat dari IPSI yang menampilkan variasi dari etnis Melayu, Madura, dan Bugis.

Acara selanjutnya yakni peluncuran buku Sumpah Kedaulatan Dayak Patih Jaga Pati, Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua, Alexander Wilyo yang ditulis oleh Masri Sareb Putra dan Thomas Tion, dan diterbitkan oleh Lembaga Literasi Dayak (LLD) di Jakarta.

Sebelum peluncuran buku, rangkaian peresmian Balai Kepatihan Jaga Pati dimulai dengan penyambutan Bupati Ketapang dan rombongan menggunakan adat Penandak, yang disambut secara adat oleh masyarakat adat Tolak Sekayok. 

Peluncuran buku "Sumpah Kedaulatan Dayak" melibatkan serah-terima buku dari penerbit kepada penulis, diikuti oleh serah-terima dari penulis kepada Patih Jaga Pati. 

Menandatangani back drop cover buku

Selanjutnya, Patih Jaga Pati Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua Alexander Wilyo menandatangani back drop cover buku dengan tinta emas. Pada kesempatan tersebut, tokoh-tokoh lintas etnis, termasuk Dayak, Tionghoa, Melayu, dan Madura, memberikan sambutan yang mengapresiasi peresmian Balai Kepatihan Jaga Pati dan peluncuran buku "Sumpah Kedaulatan Dayak".

Dalam sambutannya, Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh, Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua, Alexander Wilyo, S. STP., M.Si., mengucapkan terima kasih kepada semua yang turut serta dalam acara peresmian Balai Kepatihan Jaga Pati. 

Alexander Wilyo juga menjelaskan bahwa seluruh rangkaian prosesi adat Menaiki Rumah Agung Jurong Tinggi Balai Kepatihan Jaga Pati telah dilakukan selama dua hari sebelumnya, yaitu dari tanggal 2 hingga 3 Mei 2024, dengan puncaknya adalah pendirian Ponti’ Padagi dengan penyatuan tanah dan air dari seluruh wilayah Laman Sembilan Domong Sepuluh.

Macam dan makna Adat "Potong Garung Hompakng"

Menurut Datok Laway, salah seorang tokoh adat Dayak Ketapang, nama "motong halangan" barangnya jika bambu disebut "pagar buluh hompakng", jika tebu disebut "kuto maro", sedangkan jika garung disebut "garung hompakng". 

Berbagai macam bahan dan makna "motong halangan" di kalangan sukubangsa Dayak ini menggambarkan beragam simbolisme dalam mengatasi rintangan dan bahaya dalam budaya Dayak.

-- Rangkaya Bada

LihatTutupKomentar
Cancel