Ayu Nike : Pramugari dan Penari Dayak

Ayu Nike, pramugari, penari, Dayak, ius sanguinis, Tumbang Anoi, Nyi Denok

PATIH JAGA PATI : Secara ius sanguinis, ia indu dara Iban dari kakeknya, seorang tentara yang berpindahtugas dari Kalimantan ke tanah Sunda, lalu menikah dengan neneknya.

Ayu kini tinggal di Cililitan, keluarga besarnya di Bogor. Ibu memang Sunda, tapi kakeknya Iban asli --seorang mantan serdadu, yang ketika masuk korps militer bersumpah siap ditugaskan di mana saja, diutus ke medan laga sekalipun.

Dara multitalenta, tapi bersahaja Ayu Nike mendedikasikan diri, sekaligus merasa terpanggil untuk membentangkan panji-panji kebesaran dan keharuman nama Dayak. Dasar punya garis keturunan, kerap genetika secara otomatis turun begitu saja, lintas-generasi. Seperti dari kakek ke Ayu.

Baca Tumbang Anoi Dan Suasana Pertemuan 22 Mei- Juli 1894

Secara intens belajar tari Dayak di Anjungan TMII, Kalimantan Timur. Ia dipoles seniman musik Sape, Uyau Moris. Maka tak ada yang bisa (lagi) menyangsikan ia menurunkan darah Dayak.

Salah satu butir Deklarasi Bengkayang: siapa pun yang menurunkan darah Dayak, adalah Dayak. Ia lahir pada 9-9-1983. Kerap ngumpul bareng anak-anak Binua Landak di perantauan, juga anak-anak Dayak Lundayeh yang kuliah di Jakarta.

Ketika sedang off sebagai “dewi kayangan”, ia lakukan performance di berbagai Kedutaan Asing, di Jakarta. Tarian yang paling kerap dipertunjukkannya ke tetamu asing adalah: tarian mandau dan sumpit. Kini, atas bimbingan Ibu Anjungan TMII Kaltim, ia menari tarian kolaborasi berbagai seni budaya Dayak.

Sang pramugari Ayu akan menyungging senyum tiap kali berpapasan dan melayani penumpang. Sekilas, tak terkesan ia perempuan Dayak, mahir menari tarian Dayak pula.

Ia jelaskan, mengapa dominan warna merah busana Dayak yang dikenakannya tiap kali tubuhnya meliuk-liuk, menampilkan tarian mandau. 

“Itu warna Bangkule Rajakng,” katanya, seraya mengacu ke novel-sejarah yang ditulis Yohanes Laon, dan diterbitkan Lembaga Literasi Dayak (Juli 2018).

Caranya memperkenalkan Dayak, lewat seni tari, patut dihargai. Tak banyak di antara kita bisa melakukannya, apalagi tampil di muka floor antarbangsa dan disaksikan para duta.

Baca Marsha Milan: O.... Dayak Toh?

Tak mudah menjadi seorang pramugari udara. Banyak syaratnya. Selain berat dan tinggi badan ideal, juga watak dan sikap menentukan. Dahulu kala, profesi langka ini sangat jauh dari jangkauan perempuan Dayak.

Baca Samuel Oton Sidin| Uskup Sintang Peraih Kalpataru

Namun kini, seorang anak kombinasi dua etnis ini dara asal Ngabang, Kalimantan Barat telah memecah telor. Ia terbang tinggi bersama Sriwijaya Air.

Sang pramugari Ayu akan menyungging senyum tiap kali berpapasan dan melayani penumpang. Sekilas, tak terkesan ia perempuan Dayak, mahir menari tarian Dayak pula. Ia satu dari 3 insan maskapai penerbangan besar di antara ribuan karyawan, terpilih sebagai manusia menginspirasi jelang Hari Pahlawan. Profesi sebagai “dewi khayangan” ini telah dilakoninya selama 15 tahun.

Ia menari tarian Dayak, sebab ada orang nonDayak yang menarikan tarian Dayak. Terasa sekali di ruh dan penghayatannya, terutama bagi yang peka dan pengamat seni tari. Hingga mancanegara diperkenalkannya seni budaya etnisnya, Nike menyabet berbagai penghargaan prestisius.

Siapa saja, yang membawa, memperkenalkan, dan mengukir nama baik Dayak, adalah tokoh baik sekaligus inspiratif. Pahlawan tidak mesti --menurut Bung Karno-- berjuang dengan granat dan besi, apalagi zaman now.

Baca Larissa, Miss World Malaysia 2018: Cantik Seperti Dayak

Usai menari “tarian mandau” pada Festival Mahakam Parade Budaya 1000 Mandau 10 November 2018, pemilik nama pena Nyi Denok menulis dalam beranda FB-nya bertanggal hari bulan 11-11, 2018:

Entah apa yg ada dlm diriku ... yg jlas aku jatuh hati pada mandau ini.
Ketika aku menari, mandau ini spt 1 hati, 1 batin.
Jiwa dan ragaku menyatu dlm ke-2 mandau ini.
Bkn krn aku mampu memainkan mandau ini.
Tp krn aku bangga aku bs menunjukkan pd semua org, apa mandau itu??
Ketika mandau ini kumainkan, disitulah aku mengkontrol semua emosional menjadi kedamaian hati. Bkn krn ego ataupun kesombongan melainkan pengendalian diri. *

LihatTutupKomentar
Cancel