Balai Kepatihan: Patih Jaga Pati Dedikasikan untuk Dayak

Balai Kepatihan, Patih Jaga Pati, Dayak, Ketapang.

Patih Jaga Pati di muka Balai Kepatihan.

Sebuah bangunan khas Dayak seperti magnit. Memancarkan pesona bagai wanita cantik. Menggoda mata siapa saja untuk mencuri pandang. Kemudian menatapnya lamat-lamat.
Baca Balai Kepatihan: Simbol Kedaulatan Dayak

Bangunan itu berbentuk rumah panjang. Tegak berdiri di Gang Kelapa Gading, No. 21, di bilangan Jalan S. Parman, Ketapang. Luas bangunannya 10 x 14 meter: panjang 14 meter, lebar 10 meter.

Semua bahan bangunannya terbuat dari kayu belian atau kayu ulin tulen, kayu paling keras di Pulau Kalimantan. Dulu, di zaman rumah kayu, rerata, minimal, penduduk Bumi Borneo menggunakan kayu belian sebagai bahan untuk tiang dan tongkat rumah panggung.
Baca Balai Kepatihan: Simbol Kedaulatan Dayak

Lagi pula, bagi subsuku Dayak tertentu, kayu belian atau kayu ulin ini diyakini sebagai kayu keramat dan kayu bertuah -- apalagi jika kayu beliannya yang berendam di dalam air.


Di atas bumbungan Balai Kepatihan Jaga Pati tampak sepasang naga, yang juga terbuat dari kayu belian dan diukir sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat apik dipandang mata. 

Sepasang naga itu semakin mempesona pemanandangan di kompleks Kepatihan Jaga Pati. Sepasang naga itu pun seakan-akan menjadi penyempurna bagi dinding dan beberapa bagian bangunan Balai Kepatihan Jaga Pati, yang diukir dengan motif Dayak.
Baca Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh Hadiri Upacara Adat Tentobus

Secara filosofis, selain keberuntungan dan kebangsawanan, naga dianggap sebagai makhluk maha kuasa yang menawarkan kebijaksanaan dan perlindungan kepada rakyatnya. 

Begitu pula halnya dengan rumah. Simbol naga yang dipasang di bumbungan rumah itu diharapkan  dapat memberikan perlindungan dan membawa keberuntungan bagi pemilik rumah itu sendiri.
Balai Kepatihan Jaga Pati ini, selaian sebagai simbol kedaulatan Dayak, juga sebagai “penyemangat Dayak” dalam mempertahankan jati diri/identitas Dayak, dan dalam rangka menjaga simbol-simbol Dayak.
Sepasang naga di bumbung Balai Kepatihan tersebut diritual-adatkan MENAIKI NAGA, pada Sabtu (12/8/2023).

Upacara adat MENAIKI NAGA Balai Kepatihan Jaga Pati ini dilakukan menurut ritus Dayak Kayong. Bertindak selaku Dukun Betaro atau pemimpin ritual adatnya adalah Cendaga Temiang Pancong Sedia (83 tahun) dan dibantu oleh Orang Kaya Hamus (72 tahun).

Rangkaian acara adat menaiki naga Balai Kepatihan Jaga Pati ini terdiri dari: (1) Memaliti Tangga Nait -- membuat tanda silang di tangga; (2) Menconteng Pintu -- membuat tanda silang di bagian bawah dan atas pintu masuk; (3) Mempaliti 4 Penjuru Tiang (membuat tanda silang pada 4 penjuru tiang); dan (4) Menaiki Naga – ritual memasang naga di bumbungan.

Ritual MENAIKI NAGA ini dilengkapi dengan bahan-bahan atau perabahan (dalam Bahasa Dayak Kayong) antara lain berupa: 8 ekor ayam (1 ekor anak ayamnya), tuak secukupnya, tampung tawar, air putih, jerangau, kain batik.

Dukun Betaro Cendaga Temiang Pancong Sedia menjelaslan, ritual MENAIKI NAGA ini adalah sebagai salah satu pengejawantahan bahwa manusia itu beradat. “Tinjak di jalan, titi di adat,” ujar Cendaga Temiang Pancong.

Pada kesempatan acara adat Menaiki Naga Balai Kepatihan Jaga Pati ini, Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik, Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua, Alexander Wilyo, S. STP., M. Si, yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ketapang menandaskan bahwa Balai Kepatihan tersebut hanya ia persembahkan untuk Dayak. “Balai Kepatihan ini saya dedikasikan untuk Dayak, digunakan untuk kepentingan Dayak,” ujar Patih Alex.

Dikisahkannya pula, Balai Kepatihan Jaga Pati itu, ia bangun secara pribadi, dan dibantu oleh beberapa rekan sejawatnya dalam wujud bahan kayu belian.

Dalam proses pembangunannya pun, sejak dari awal sampai akhir -- sudah melibatkan seluruh subsuku Dayak yang ada di wilayah Laman Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik.

Tentang penggunaan naga di bumbungan itu, Patih Jaga Pati menjelaskan, tidak semua jenis bangunan boleh dipasang naga dan tidak semua subsuku Dayak juga yang memasangnya dengan naga. “Hanya bangunan tertentu saja yang bisa menggunakan naga,” ujar Patih.

Terlepas dari itu semua, Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik, yang bertag-line: SALAM BERDAULAT itu, menyatakan bahwa pembangunan Balai Kepatihan tersebut adalah sebagai salah satu langkah strategisnya dalam mewujud-nyatakan tiga daulatnya, yang telah diucapkannya sebagai sumpah setia, yakni: berdaulat dalam hal politik, ekonomi, dan budaya.

Dari itu pulalah, maka Balai Kepatihan Jaga Pati ini, selaian sebagai simbol kedaulatan Dayak, juga sebagai “penyemangat Dayak” dalam mempertahankan jati diri/identitas Dayak, dan dalam rangka menjaga simbol-simbol Dayak.

Rencananya, Balai Kepatihan Jaga Pati ini akan diresmikan usai hiruk-pikuk perhelatan Pileg, awal April 2024. (Thomas Tion)
LihatTutupKomentar
Cancel