Sumpah Patih Jaga Pati: 3 Daulat Dayak di Tanah Warisannya

Patih Jaga Pati, Alexander Wilyo, Daulat Dayak, Sumpah, Ekonomi, Politik, Budaya


PATIH JAGA PATI : Sumpah mengandung makna mendalam yang mencerminkan tekad dan janji setia yang tidak dapat diabaikan. Seperti dalam legenda Palapa dan Sumpah Mahapatih Gadjah Mada, ada satu sumpah yang tidak kalah pentingnya di pulau Borneo, yakni: Sumpah Patih Jaga Pati.

Sumpah Patih Jaga Pati adalah sebuah komitmen yang mengikat untuk melindungi dan menjaga Borneo. Baik itu alamnya maupun makhluk yang hidup di sana, dari masa lampau hingga masa depan. 


Sebuah janji  yang mengharuskan kita semua untuk bertanggung jawab terhadap keberlanjutan dan kelestarian Borneo. 

Sumpah Patih Jaga Pati adalah sebuah komitmen tulus untuk melindungi dan menjaga Borneo. Ini bukanlah sumpah yang hanya untuk diri-sendiri, tetapi untuk segenap makhluk, tanah, laut, dan udara Borneo. Sumpah ini mengikat kita untuk merawat warisan alam dan kehidupan yang ada di sana, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa lalu dan masa depan. 

Dengan tekad yang bulat, kita bersumpah untuk menjadi pelindung Borneo, menjaga keanekaragaman hayati, mempertahankan ekosistemnya, dan menghormati warisan budayanya. 

Dari generasi ke generasi, seperti Sumpah Palapa, kita akan menjalankan Sumpah Patih Jaga Pati ini dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab, agar Borneo tetap indah dan lestari bagi semua yang hidup di sana dan yang akan datang."
Melalui tri-Sumpahnya, Patih berusaha untuk membawa kembali nilai-nilai dan praktik masa lalu, dengan harapan untuk mempertahankan identitas suku bangsa Dayak di tengah perubahan zaman. 

Dalam konteks ini, kita akan menjelajahi tiga sumpah yang diucapkan oleh Patih Jaga Pati, Raden Cendaga Alexander Wilyo, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Kalimantan, khususnya di wilayah kerajaan Ulu Aik.

  1. Daulat Budaya: Sumpah pertama yang diucapkan oleh Patih Jaga Pati menegaskan tekadnya untuk melindungi dan memelihara kedaulatan budaya suku bangsa Dayak. Budaya bukan hanya suatu kumpulan praktik dan tradisi, tetapi juga cerminan dari identitas suatu masyarakat.Dalam sumpah ini, Patih menggarisbawahi pentingnya merawat adat dan budaya Dayak yang telah melampaui batasan waktu. Adat istiadat, bahasa, seni, dan ritual menjadi pilar-pilar yang menjaga keutuhan suku Dayak dan membentuk pondasi kuat bagi kelanjutan identitas mereka di tengah arus modernisasi.
  2. Daulat dalam Ekonomi: Sumpah kedua Patih Jaga Pati menyoroti pentingnya kedaulatan ekonomi bagi suku Dayak. Ekonomi bukan hanya tentang uang dan sumber daya, tetapi juga tentang keberlanjutan komunitas. Dalam sumpah ini, Patih berjanji untuk melindungi hak-hak ekonomi suku Dayak, memastikan bahwa mereka memiliki akses dan kendali atas sumber daya alam yang menjadi bagian integral dari kehidupan dan budaya mereka. Ini bukan hanya tentang mempertahankan mata pencaharian tradisional, tetapi juga tentang membangun ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di era modern.
  3. Daulat dalam Politik: Sumpah ketiga yang diucapkan oleh Patih Jaga Pati adalah tentang kedaulatan dalam politik. Kehadiran suara dan pengaruh politik di semua tingkatan penting bagi kelangsungan hidup dan pengakuan suku Dayak. Patih menyadari bahwa suku Dayak harus memiliki kontrol atas nasib politik mereka sendiri. Dalam sebuah masyarakat yang semakin terhubung dan kompleks, partisipasi politik suku Dayak menjadi kunci dalam memastikan bahwa aspirasi mereka diperhitungkan dan kepentingan mereka diakui.

Upacara pengucapan sumpah Patih Jaga Pati bukan hanya sebuah tindakan seremonial semata, tetapi juga mencerminkan semangat pelestarian identitas budaya penduduk asli bumi Borneo. 

Meskipun mayoritas pesertanya adalah penganut agama Katolik, upacara tersebut menunjukkan semangat "inkulturasi". Yang menggabungkan nilai-nilai budaya lokal dengan keyakinan agama. 

Ini adalah contoh konkret. Bagaimana suku Dayak menjaga kesinambungan budaya mereka dengan mengadaptasikannya ke dalam konteks modern.

Menjaga Warisan Budaya dalam Era Globalisasi
Dengan tekad dan sumpahnya, Patih Jaga Pati berperan penting dalam menghidupkan kembali adat budaya Dayak dalam era dan lingkungan yang modern. 

Patih berusaha untuk membawa kembali nilai-nilai dan praktik masa lalu, dengan harapan untuk mempertahankan identitas suku bangsa Dayak di tengah perubahan zaman. 

Baca Kerajaan Hulu Aik: Menjaga Warisan, Memelihara Tradisi

Sumpah Patih Jaga Pati ini mencerminkan semangat Dayak untuk tetap kuat dalam menjaga dan memelihara warisan budaya mereka. Tetap tegar dan berkanjang di dalam menghadapi tantangan globalisasi dengan keyakinan bahwa identitas mereka berharga dan tak ternilai.

Sumpah Patih Jaga Pati bukan hanya sekadar janji. Lebih dari itu, sumpah ini adalah pijakan kuat yang mengikat tekad suku Dayak untuk menjaga dan menghormati warisan budaya mereka.

Dengan fokus pada tri-kedaulatan budaya, ekonomi, dan politik, niscaya penduduk asli Borneo akan eksis selamanya. 

Melalui upaya pelestarian dan adaptasi dalam era modern, suku Dayak memperlihatkan bagaimana mereka menjaga dan memelihara identitas. 

Dan dengan bangga mengakuinya, sembari tetap membuka pintu keterbukaan terhadap unsur luar menuju masa depan yang penuh harapan. 

Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh menjadi seorang tokoh anutan. Sekaligus pemimpin yang mendorong perubahan positif dan membangun masa depan yang berkelanjutan untuk suku Dayak. (Rangkaya Bada)
LihatTutupKomentar
Cancel