Kerajaan Hulu Aik: Menjaga Warisan, Memelihara Tradisi

Kerajaan, Hulu Aik, Singa Bansa, meruba, Patih Jaga Pati, Ketapang, Krio, Bosi Koling, Alexander Wilyo, Dayak
Artefak yang menjadi warisan fakta sejarah Kerajaan Hulu Aik.

PATIH JAGA PATI : Kerajaan Hulu Aik benarkah secara fakta-sejarah ada?

Penelitian sejarah adalah upaya untuk memahami masa lalu dengan menggali fakta-fakta historis. Untuk memastikan validitas dan ketepatan penelitian sejarah, empat syarat wajib ada (tokoh, peristiwa, setting waktu dan tempat, bukti sejarah) adalah landasan yang sangat penting. 

Namun, untuk memperkaya metode penelitian sejarah, perlu untuk mendekati setiap syarat ini dengan lebih dalam dan mengeksplorasi pendekatan-pendekatan baru yang dapat diterapkan.

Penelitian sejarah sebagaimana diketahui mencakup 4 syarat wajib, yakni:

  1. tokoh (siapa) pelaku?
  2. apa peristiwa sejarahnya?
  3. setting waktu dan tempat  (kapan dan di mana)?
  4. apa bukti sejarahnya? Bukti berupa artefak, keramikologi, inskripsi serta saksi-sejarahnya?

Tanpa adanya bukti-bukti itu. Dan keterkaitan satu sama lainnya. Jangan coba-coba berani menyebutnya sebagai "sejarah". Apalagi jika tidak didukung saksi-sejarah yang mengalami, setidak-tidaknya bisa memverifikasi.

Sejarah Kerajaan Hulu Aik
Ketika kita berbicara tentang Kerajaan Hulu Aik di Kalimantan Barat, semua wajib-sejarah di atas dapat dibuktikan.  Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang dan mengesankan yang mencakup berabad-abad. Ibukotanya berada di Laman Sengkuang, yang terletak di hulu Sungai Pawan, Desa Benua Krio, Kecamatan Hulu Sungai Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Baca Patih Jaga Pati| Simbol Kerajaan Ulu Aik Dan Dayak Ada Padanya

Kerajaan Hulu Aik telah menjadi saksi perubahan zaman dan tetap berdiri dengan kokohnya sejak abad ke-4 Masehi. Dalam sejarahnya yang panjang, kerajaan ini telah memiliki 51 raja yang turun temurun memimpin wilayahnya. Salah satu hal yang sangat unik dan menarik tentang kerajaan ini adalah bahwa Raja Singa Bansa, yang saat ini menjabat sebagai Raja Hulu Aik yang ke-51, adalah satu-satunya raja non-Muslim di seluruh Kalimantan. 

Wilayah kekuasaan Kerajaan Hulu Aik meliputi seluruh Kabupaten Ketapang, sebagian Kabupaten Kayong Utara, sebagian Kabupaten Sanggau, dan sebagian Kabupaten Kubu Raya di Kalimantan Barat. Ini adalah wilayah yang luas yang mencerminkan kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki oleh kerajaan ini selama berabad-abad.

Meruba: Upacara Warisan tradisi yang masih hidup
Salah satu fakta-sejarah yang tidak terbantah adalah bahwa hingga hari ini ada warisan adat budaya Kerajaan Hulu Aik yang masih hidu, bukan hanya diteruskan, yakni Meruba.  Meruba adalah upacara tahunan yang diadakan pada tanggal 25 Juni setiap tahunnya. Upacara ini memiliki makna yang sangat dalam bagi kerajaan ini, karena Meruba adalah upacara adat yang digunakan untuk membersihkan pusaka Kerajaan Hulu Aik. Pusaka-pusaka ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi, dan Meruba adalah cara untuk memastikan bahwa mereka terus dijaga dan dilestarikan.

Saat acara Meruba dimulai, suasana kerajaan menjadi sangat khusyuk. Setiap langkah dan tindakan dalam upacara ini dijalankan dengan cermat dan penuh kehormatan terhadap warisan budaya yang mereka miliki. Salah satu momen awal dalam Meruba adalah ketika Raja Singa Bansa memimpin prosesi masuk ke dalam ruang situs pusaka Kerajaan Hulu Aik. Pada tahap awal ini, hanya beberapa orang yang memiliki kehormatan untuk masuk ke dalam ruang tersebut. 

Di antara mereka yang pertama masuk adalah Ucit (Sutaragi Kerajaan Hulu Aik), Yohanes (Domong Mantir Kerajaan Hulu Aik), Petrus Singa Bansa (Raja Hulu Aik yang ke-51 bersama permaisuri dan beberapa pengawalnya), Patih Jaga Banua, Raden Cendaga Pintu Bumi Alexander Wilyo, Suherman, SH, MH (Pj. Sekda Ketapang, mewakili Bupati Ketapang), dan Alfino DJ (videographer). Hanya mereka yang beruntung yang diizinkan untuk memasuki ruang situs pusaka Kerajaan Hulu Aik ini. Begitu mereka memasuki ruang tersebut, mereka akan mengejar momen-momen bersejarah yang penuh makna.

Di dalam ruang situs pusaka Raja Hulu Aik, ada berbagai barang pusaka yang tersimpan dengan baik. Salah satu pusaka utama yang menjadi pusat perhatian adalah Bosi Koling, sebuah sebilah keris ukuran kecil yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. 

Selain itu, ada juga barang pusaka lain yang mendampingi Bosi Koling. Barang-barang ini termasuk Tungkat Rakyat (dari kayu ulin/belian), Piring Pemali (piring antik ukuran besar), Jangka Damar (alat untuk menghidupkan api damar), Batu Udang, Batu Buntal, Puntung Berasap (unggun tembaga), dan Tempayan Pemandik. Namun, ada dua jenis barang pusaka pendamping Bosi Koling lainnya yang sudah tidak bisa dihadirkan lagi karena telah hilang.

Menurut Singa Bansa, Raja Hulu Aik ke-51, salah satu dari dua barang pusaka yang hilang adalah Batu Beranak. Menurut kisahnya, Batu Beranak masih dipinjam oleh warga Kerajaan Hulu Aik di tempat lain sebagai barang keramat. 

Barang pusaka lain yang hilang secara misterius adalah Kain Kelambu Potong. Menurut legenda, kain tersebut dapat menghilang dan muncul kembali sendiri secara ajaib. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kain ini benar-benar hilang dan belum ditemukan kembali hingga saat ini.

Proses Pembersihan Pusaka
Saat Meruba berlangsung, Raja Singa Bansa memainkan peran yang sangat penting dalam proses pembersihan pusaka. Ia adalah pemimpin dalam upacara ini dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlangsungan budaya dan sejarah Kerajaan Hulu Aik. 

Salah satu momen paling penting dalam Meruba adalah ketika Raja Singa Bansa membuka peti pusaka yang berisi semua barang pusaka kerajaan.

Ketika peti pusaka dibuka, suasana dalam ruangan menjadi sangat hening. Semua orang yang hadir merasa sangat khusyuk dan penuh hormat terhadap barang-barang pusaka ini. 

Raja Singa Bansa dengan cermat mengeluarkan setiap barang pusaka dari peti dan membersihkannya dengan hati-hati. Pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan minyak khusus yang terbuat dari kelapa.

Kerajaan Hulu Aik telah menjadi saksi perubahan zaman dan tetap berdiri dengan kokohnya sejak abad ke-4 Masehi. Dalam sejarahnya yang panjang, kerajaan ini telah memiliki 51 raja yang turun temurun memimpin wilayahnya. Salah satu hal yang sangat unik dan menarik tentang kerajaan ini adalah bahwa Raja Singa Bansa, yang saat ini menjabat sebagai Raja Hulu Aik yang ke-51, adalah satu-satunya raja non-Muslim di seluruh Kalimantan. 

Minyak kelapa ini memiliki peran penting dalam Meruba karena diyakini memiliki kekuatan membersihkan dan melindungi pusaka-pusaka ini. Selain membersihkan barang-barang itu secara fisik, minyak kelapa juga dianggap membersihkan mereka secara spiritual. Ini adalah salah satu contoh bagaimana budaya dan kepercayaan tradisional masih sangat kuat dalam Kerajaan Hulu Aik.

Baca Balai Kepatihan: Simbol Kedaulatan Dayak

Selama proses pembersihan, Raja Singa Bansa tidak hanya bekerja sendirian. Ia didampingi oleh beberapa orang yang memiliki peran penting dalam upacara ini. 

Salah satunya adalah Patih Jaga Pati, yang bertugas untuk melestarikan budaya, adat, dan istiadat Dayak serta menjaga harkat dan martabat bangsa Dayak. Patih Jaga Pati memiliki simbol-simbol yang mengidentifikasikannya, seperti piring penunduk taring todung dan tepayan pemungkam lidah hantu.

Upacara Meruba adalah momen yang sangat istimewa bagi Kerajaan Hulu Aik. Ini adalah saat ketika mereka merayakan dan menghormati warisan budaya mereka yang telah terjaga selama berabad-abad. 

Selain itu, upacara ini juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama yang sangat kuat dalam masyarakat Hulu Aik. Setiap orang yang hadir dalam upacara ini merasa terhubung satu sama lain melalui kecintaan mereka terhadap budaya dan sejarah kerajaan mereka.

Singa Bansa: Raja Hulu Aik yang Eksklusif
Sebagai Raja Hulu Aik yang ke-51, Singa Bansa adalah sosok yang sangat dihormati dan dihargai oleh masyarakatnya. Ia adalah pemimpin tertinggi dalam kerajaan ini dan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga warisan budaya dan sejarah mereka. Salah satu hal yang membuat Singa Bansa sangat istimewa adalah bahwa ia adalah satu-satunya raja non-Muslim di seluruh Kalimantan.

Raja Hulu Aik yang ke-51, Singa Bansa.

Peran Singa Bansa dalam Kerajaan Hulu Aik sangat luas dan kompleks. Selain memimpin upacara seperti Meruba, ia juga bertanggung jawab atas pengelolaan semua aspek kehidupan kerajaan. Ini termasuk mengelola sumber daya alam, mengatur kehidupan sosial dan adat, dan menjaga perdamaian dan ketertiban dalam wilayah kekuasaannya. Dalam hal ini, ia adalah pemimpin yang sangat dihormati dan diandalkan oleh masyarakatnya.

Baca Singa Bansa| Raja Ulu Aik Ke-51

Selain itu, Singa Bansa juga memiliki peran penting dalam menjaga hubungan dengan pemerintah Indonesia. Hubungan antara Kerajaan Hulu Aik dan pemerintah Indonesia sangat penting, karena Kerajaan Hulu Aik adalah entitas yang diakui secara resmi dalam struktur pemerintahan Indonesia. 

Singa Bansa bertanggung jawab untuk menjaga hubungan yang baik dengan pemerintah dan memastikan bahwa hak-hak dan kepentingan Kerajaan Hulu Aik dihormati dan dijaga.

Selain itu, Singa Bansa juga harus memastikan bahwa budaya dan tradisi kerajaannya terus dilestarikan dan dijaga. Ini adalah tugas yang sangat penting, karena Kerajaan Hulu Aik memiliki warisan budaya yang sangat kaya dan berharga. Singa Bansa adalah pelindung utama dari warisan ini dan memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa generasi mendatang dapat mewarisi dan menghargai warisan ini.

Patih Jaga Pati: Pelestari Budaya dan Adat
Dalam Kerajaan Hulu Aik, Patih Jaga Pati adalah salah satu jabatan yang sangat penting. Patih Jaga Pati memiliki peran khusus dalam menjaga dan melestarikan budaya, adat, dan istiadat Dayak yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Hulu Aik. Salah satu sosok yang pernah menjabat sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik adalah Alexander Wilyo. Ia dianggap sebagai salah satu pelestari budaya dan adat yang sangat berdedikasi.

Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik adalah Alexander Wilyo.

Salah satu simbol yang mengidentifikasi Patih Jaga Pati adalah piring penunduk taring todung. Piring ini memiliki makna yang dalam dalam budaya Hulu Aik. Ini digunakan sebagai salah satu cara untuk mempertahankan nilai-nilai dan adat istiadat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. 

Piring ini juga digunakan dalam berbagai upacara adat, dan perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan dan harmoni dalam masyarakat Hulu Aik.

Selain piring penunduk taring todung, Patih Jaga Pati juga memiliki tepayan pemungkam lidah hantu sebagai simbol. Tepayan ini adalah wadah yang digunakan untuk menyimpan lidah hantu yang telah dimatikan. Lidah hantu adalah salah satu elemen yang digunakan dalam praktik-praktik adat tertentu. 

Dalam budaya Hulu Aik, lidah hantu diyakini memiliki kekuatan tertentu dan digunakan dalam upacara-upacara khusus. Tepayan ini adalah simbol kekuatan dan kebijaksanaan Patih Jaga Pati dalam menjalankan tugasnya.

Baca Patih Jaga Pati Pewaris Dan Penjaga Sejarah, Adat Serta Nilai Tradisi Kerajaan Ulu Aik

Patih Jaga Pati memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga budaya dan adat istiadat Dayak yang telah ada selama berabad-abad. Mereka bertanggung jawab atas mengajarkan nilai-nilai dan tradisi ini kepada generasi muda dan memastikan bahwa kekayaan adat budaya dan warisan nilai tradisi terus dilestarikan dan dihormati. Dengan demikian, budaya Hulu Aik tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Kerajaan Hulu Aik dan Pemerintah Indonesia
Salah satu aspek penting dari Kerajaan Hulu Aik adalah hubungannya dengan pemerintah Indonesia. Kerajaan ini adalah salah satu kerajaan tradisional yang diakui secara resmi dalam struktur pemerintahan Indonesia. 

Hubungan antara Kerajaan Hulu Aik dan pemerintah Indonesia adalah contoh harmonis dari cara masyarakat adat dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya dan sejarah.

Pemerintah Indonesia mengakui pentingnya menjaga keragaman budaya dan adat istiadat di seluruh negeri. Mereka juga menghormati hak-hak masyarakat adat untuk menjalankan adat istiadat mereka sendiri. Ini tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang memberikan pengakuan khusus terhadap keberagaman budaya dan hak-hak masyarakat adat.

Dalam kasus Kerajaan Hulu Aik, pemerintah Indonesia telah memberikan pengakuan resmi terhadap eksistensi dan peran mereka dalam menjaga budaya dan adat istiadat Dayak. Ini tercermin dalam surat keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yang secara resmi mengakui Raja Singa Bansa sebagai pemimpin Kerajaan Hulu Aik yang ke-51. Pengakuan ini adalah bukti dari hubungan yang harmonis antara Kerajaan Hulu Aik dan pemerintah Indonesia.

Selain pengakuan resmi, pemerintah Indonesia juga memberikan dukungan finansial kepada Kerajaan Hulu Aik untuk menjalankan berbagai kegiatan budaya dan adat istiadat. Dukungan ini membantu Kerajaan Hulu Aik dalam mempertahankan dan merayakan warisan budayanya dengan lebih baik. Hal ini mencakup penyelenggaraan upacara-upacara adat seperti Meruba dan berbagai kegiatan budaya lainnya.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga bekerja sama dengan Kerajaan Hulu Aik dalam menjaga sumber daya alam yang ada di wilayah kekuasaan mereka. Ini mencakup pengelolaan hutan dan lingkungan alam yang ada di wilayah Hulu Aik. 

Kerja sama ini adalah contoh konkret dari bagaimana masyarakat adat dan pemerintah dapat bekerja bersama untuk menjaga lingkungan alam dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Masa Depan Kerajaan Hulu Aik
Kerajaan Hulu Aik adalah contoh yang sangat baik dari bagaimana masyarakat adat dapat mempertahankan budaya dan adat istiadat mereka dalam menghadapi perubahan zaman. Mereka telah berhasil menjaga warisan budaya mereka yang kaya dan eksklusif selama berabad-abad, dan mereka terus berkembang bersama dengan masyarakat modern.

Masa depan Kerajaan Hulu Aik tampaknya cerah, dengan dukungan dari pemerintah Indonesia dan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya dan sejarah mereka. Upacara-upacara seperti Meruba dan peran penting Raja Singa Bansa dan Patih Jaga Pati dalam menjaga budaya dan adat istiadat Dayak akan terus menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Hulu Aik.

Selain itu, Kerajaan Hulu Aik juga memiliki potensi untuk menjadi tujuan pariwisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik dan internasional. Dengan mempromosikan kekayaan budaya mereka, mereka dapat membagikan keindahan dan keunikan budaya Dayak dengan dunia.

Dalam dunia yang terus berubah, Kerajaan Hulu Aik adalah contoh nyata bahwa warisan budaya dan sejarah dapat bertahan dan berkembang. Dengan komitmen mereka terhadap pelestarian budaya dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, Kerajaan Hulu Aik terus menjadi penjaga warisan budaya yang kaya dan eksklusif di Kalimantan Barat, Indonesia, dan dunia.

Kerajaan Hulu Aik adalah contoh gemilang dari bagaimana budaya dan sejarah dapat dilestarikan dan dijaga dalam menghadapi perubahan zaman. 

Sejarah panjang mereka, upacara adat seperti Meruba, peran penting Raja Singa Bansa dan Patih Jaga Pati dalam melestarikan budaya, dan hubungan harmonis dengan pemerintah Indonesia semuanya mencerminkan kekayaan budaya yang luar biasa dari Kerajaan Hulu Aik.

Kerajaan Hulu Aik adalah harta karun budaya yang harus dihargai dan dirayakan oleh semua orang. Dengan menjaga dan merayakan warisan budaya mereka, kita dapat memastikan bahwa nilai-nilai, tradisi, dan sejarah yang mereka bawa akan tetap hidup dan berkembang untuk generasi mendatang.

Dalam mengakhiri cerita ini, kita dapat merenungkan pentingnya pelestarian budaya dan sejarah di seluruh dunia. Budaya adalah apa yang membuat kita unik dan menghubungkan kita dengan akar-akar kita. 

Dengan merayakan dan melestarikan budaya kita, kita dapat memastikan bahwa kita tidak pernah kehilangan identitas kita yang berharga.

Kerajaan Hulu Aik telah memberikan contoh yang sangat baik tentang bagaimana budaya dan sejarah dapat tetap hidup dalam menghadapi perubahan zaman. Kiranya kisah mereka menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjaga warisan budaya kita sendiri dan untuk menghormati warisan budaya orang lain. 

Dengan begitu, kita dapat terus hidup dalam dunia yang kaya akan keberagaman budaya dan sejarah yang menginspirasi dan memperkaya kita semua. *)

Teks oleh: Thomas Tion
Editor: Masri Sareb Putra


LihatTutupKomentar
Cancel