Firenze 1997: Terkenang Machiavelli

Machiavelli, Firenze, Il Principe, Bologna, Medici, Palazzo Vecchio, Piazza della Signoria, plebeian


PATIH JAGA PATI : FIRENZE, 1997 – Di Keheningan Menulis Buku Bermutu.

Umbi tumbuh dalam diam. Mawar wangi dalam sunyi. Demikian penulis melahirkan mahakarya dalam keheningan, nan sepi.

Seperti resi menemukan jurus pamungkas dalam semedi. Dalam kesendirian. Pada suasana hening. Mata-hati mencerap alam semesta. Penulis kemudian menuangkannya dalam rangkaian bunga-kata.

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo
Dari tanah air, saya sudah bernazar: Nanti, setiba di Itali, wajib hukumnya menjejakkan kaki di Firenze. Sebuah kota tua, di mana sejarah politik kekuasaan menorehkan langkah abadinya, di sini.

Saya jadi mafhum. Begitulah   jalan dan caranya buku menemukan takdirnya. Inilah buku risalah politik yang sebenarnya lahir tak-sengaja, namun melegenda.

Satu jalan ke Roma: via Firenze

Dari Bologna kami naik kereta api cepat ke Roma. Di perjalanan, kereta api supercepat berhenti di kotatua Firenze. Saya menatap puas kota bersejarah itu. Sebab di sinilah awal mula konsep kekuasaan di tangan rakyat, sebuah gagasan luar biasa yang diwacanakan seorang warga jelata bernama Nicolo Machiavelli.

Saya depan hall Bologna Book Fair, 1997.

Tiap kali bicara soal politik kerakyatan, atau kekuasaan di tangan rakyat (demokrasi), belum sah jika tidak sekaligus menyebut nama Nicolo Machiavelli, seorang warga kota Firenze, Italia.

Semasa Machiavelli hidup, di Firenze ada sebuah keluarga kaya raya dari dinasti Medici. Sejak 1512, Lorenzo de Medici, putra Piero, sudah berpengaruh di kota itu. Ia membangun Palazzo Vecchio (Bina Graha), terletak di Piazza della Signoria.

Machiavelli mengirimkan naskah politik  Il Principe

Dari gedung inilah Medici mengendalikan seluruh aktivitas Firenze. Machiavelli mengirimkan naskah politiknya berjudul Il Principe (Sang Penguasa) ke gedung tersebut, dengan harapan, kelak ia diangkat jadi pejabat.

Saya jadi mafhum. Begitulah buku menemukan takdirnya. Inilah buku risalah politik yang sebenarnya lahir tak-sengaja, namun melegenda.

Kereta api supercepat berhenti di kotatua Firenze. Saya menatap puas kota bersejarah itu. Sebab di sinilah awal mula konsep kekuasaan di tangan rakyat, sebuah gagasan luar biasa yang diwacanakan seorang warga jelata bernama Nicolo Machiavelli.

Machiavelli memang lalu diangkat jadi pejabat Firenze, sebagai Sekretaris Dewan 10 dan Wakil Kanselir Republik Firenze. Ini terjadi pada 1498. 

Namun, setelah wangsa Medici runtuh, dan pasukan Spanyol menduduki Firenze pada 1512, Machiavelli dijebloskan ke jeruji besi. Ia dipaksa mendekam dalam bui. Raganya dipenjara. Namun, pikirannya berkelindan ke sana ke mari.

Toh demikian, berkat bantuan sahabatnya, Machiavelli berhasil dibebaskan. Tak tahan dengan keadaan kota Firenze, Machiavelli lalu "bertapa" di sebuah desa sunyi sepi. Di situ ia menulis banyak buku.

Mahakarya ditulis dalam permenungan, yang sunyi

Saya hanya mencatat satu hal saja: Bahwa sebuah mahakarya tulis (buku) wajib ditulis di dalam permenungan, pada kesunyian.

Sebuah pertanyaan mengusik Machiavelli: mengapa penguasa bisa runtuh? Semakin mencari jawabnya, kian penasaran Machiavelli. Dibantu referensi buku-buku klasik, Machiavelli akhirnya menyimpulkan hal yang demikian ini, yang kemudian jadi semacam adagium: Penguasa hanya bisa langgeng kalau bertumpu pada rakyat (plebeian).

Sementara itu, di Roma tahun 466 SM kaum plebeian sudah tersohor. Oleh penguasa, plebeian dianggap sebagai ancaman stabilitas nasional. 

Baca Cornelis Peringatkan Para Ketua Adat Di Pahauman: Jangan Gadai Tanahmu!

Kaum plebeian di Roma mirip dengan gerakan rakyat di Indonesia saat ini yang terus menuntut reformasi. Sama dengan rakyat kita, kaum plebeian di Roma saat itu pun menuntut perubahan total dan menuntut adanya kebebasan warga.

Adagium yang diterima saat itu adalah: amat musykillah suatu republik bisa berjalan tanpa adanya kebebasan. Penguasa yang korup dan diktator tidak mungkin menjamin kebebasan. Hanya rakyatlah yang bisa menjamin kebebasan bagi dirinya sendiri.

Maka kekuasaan harus berada di tangan rakyat. Plebeian harus tampil di pentas politik! Rakyat harus merebut kekuasaan dari tangan penguasa yang diktator dan kaum picik yang menjalankan pemerintahan demi diri sendiri dan golongan.

Baca Amanda Susanti: CEO Dan Founder Sayurbox

Tuntutan agar kekuasaan semestinya berasal, oleh, dan untuk kesejahteraan rakyat sebagaimana dituntut warga Roma pada abad ke-5, juga menjadi idaman bangsa kita.

Namun, untuk sementara, Prek dulu dengan hiruk pikuk dunia politik! Saya hanya mencatat satu hal saja: Bahwa sebuah mahakarya tulis (buku) wajib ditulis di dalam permenungan, pada kesunyian.

Dalam suasana hening, sering ada jarak penulis dengan objek. Buah permenuangan terdalam, yang dihayati secara intens, akan melahirkan karya yang "berkuasa". Powerful.

Sedemikian rupa, sehingga begitu terbit, karya tulis berdaya pikat, berdaya-terpa, sekaligus menyejarah.

Itulah the power of words.

Buku. Begitulah cara kerjanya!

(Masri Sareb Putra)

LihatTutupKomentar
Cancel