Borneo, 1 Pulau 3 Negara: Mengapa Brunei dan Sarawak Serba-Wah?

Dayak, penduduk asli, Indonesia, Sarawak, Brunei, Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Broke
Dayak:adalah kesamaan dari perbedaan 3 negara Borneo: sama-sama penduduk asli.


PATIH JAGA PATI : Satu Borneo. Tiga negara. 

Kalimantan, atau Borneo di era kedatangan bangsa Eropa, dan Varuna-dvipa di masa pengaruh Hindu-India pulau terluas ke-3 dunia yakni: 743.330 km². 

Faktanya demikian: Semakin kecil luas admistratif, semakin tinggi status politiknya. Camkan perbandingan yang berikut ini:

Makin luas wilayah Kalimantan, kian rendah status politiknya 

Di Borneo, Indonesia, wilayah administratifnya terdiri dari 5 provinsi. Berikut adalah nama-nama provinsi di Kalimantan Indonesia:

  1. Kalimantan Barat
  2. Kalimantan Timur
  3. Kalimantan Tengah
  4. Kalimantan Selatan
  5. Kalimantan Utara

Adapun Sarawak adalah salah satu negara bagian Malaysia yang terletak di Pulau Borneo. Berdaulat. Ia adalah federasi.

Baca Manusia Dayak Dan Kawasan Hijau Borneo

Federasi Malaysia adalah sebuah federasi negara bagian yang terdiri dari 13 negara bagian dan tiga wilayah persekutuan. 

Setiap negara bagian di Malaysia memiliki otonomi dalam beberapa hal, termasuk dalam masalah imigrasi dan perjalanan antara negara bagian. Sebagai konsekuensinya, ada peraturan yang memungkinkan negara bagian Malaysia untuk mengatur persyaratan perjalanan antara negara bagian dan wilayah persekutuan di dalam federasi.

Jadi, dalam beberapa kasus, warga negara Malaysia yang bepergian antara negara bagian atau wilayah persekutuan tertentu perlu menunjukkan dokumen identifikasi seperti kartu pengenalan atau paspor, tergantung pada peraturan yang diterapkan di negara bagian atau wilayah tersebut. 

Persyaratan ini bisa bervariasi dari satu negara bagian atau wilayah ke negara bagian atau wilayah lainnya. Ini adalah aturan internal Malaysia yang mengatur perjalanan dalam negeri antara entitas yang berbeda di dalam federasi.

Dayak:adalah kesamaan dari perbedaan 3 negara Borneo: sama-sama penduduk asli.

Akan tetapi, warga negara Malaysia tidak memerlukan paspor saat melakukan perjalanan antara negara bagian di Malaysia dalam kebanyakan situasi. Mereka biasanya hanya perlu menunjukkan kartu pengenalan atau dokumen identifikasi lain yang sah untuk memenuhi persyaratan perjalanan dalam negeri. Jadi, hal ini bisa bervariasi tergantung pada aturan di negara bagian atau wilayah tertentu.

Baca Di Pulau Sebatik, Nasionalisme Kebangsaan Itu Kian Menebal

Sementara Brunei adalah negara berdaulat yang memiliki wilayah di Pulau Borneo dan dikenal dengan nama "Brunei Darussalam."

Penduduk dan pewaris Borneo satu dan sama

Sebagai pulau yang dihuni oleh penduduk asli Dayak dan lebih dikenal sebagai Borneo di kancah internasional, Kalimantan memiliki beberapa kesamaan dengan wilayah lain. Pulau ini memiliki luas sekitar 743.330 km², ketinggian puncaknya mencapai 4.095 m, dan jumlah penduduk sekitar 23.720.000 jiwa pada tahun 2020. Kalimantan terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan barat daya Pulau Sulawesi.

Dalam konteks perkembangan politik, sosial, dan sejarah, Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia setelah New Guinea (785.753 km²) dan Greenland (2.175.600 km²). Kalimantan terbagi menjadi tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Di wilayah Indonesia, terdapat provinsi-provinsi seperti Kalimantan Selatan (38.744 km²), Kalimantan Timur (127.347 km²), Kalimantan Barat (147.307 km²), Kalimantan Tengah (153.564 km²), dan Kalimantan Utara (71.827 km²).

Dalam perbandingan luas wilayah dan status organisasi politik yang berdaulat, terdapat perbedaan menarik. Brunei Darussalam, meskipun hanya memiliki luas 5.765 km², memiliki status negara di Kalimantan. Sementara itu, Sarawak dengan luas 124.450 km² adalah negara bagian Malaysia, meskipun de facto merupakan negara berdaulat yang merdeka sejak 22 Juli 1963.

Fakta-fakta yang menjadi latar belakang

Fakta-fakta ini menjadi latar belakang menarik untuk memahami sejarah, budaya, dan adat istiadat yang sama di kalangan penduduk asli Borneo, meskipun dibatasi oleh batas-batas "imaginer" dan dipisahkan oleh kepentingan politik di masa lalu. 

Namun, sejak tahun 1990-an, upaya telah dilakukan untuk memperkuat kembali hubungan di antara kelompok-kelompok Dayak dan tokoh-tokohnya dalam berbagai bidang, termasuk adat, budaya, dan seni.

Baca Bung Karno: Kalimantan Terbangun Baik Memberi Hidup Setidaknya 250.000.000 Manusia

Selain perbandingan luas wilayah dan status organisasi politik, perhatian juga dapat diberikan pada tingkat kemajuan di masing-masing wilayah. Ada tren bahwa semakin kecil suatu wilayah, semakin makmur, sementara wilayah yang lebih luas cenderung kurang makmur. 

Beberapa hipotesis  menjawab judul narasi ini

Ada beberapa hipotesis yang mencoba menjelaskan fenomena ini, salah satunya adalah bahwa semakin jauh dari pusat pemerintahan, wilayah tersebut cenderung terabaikan dalam berbagai aspek, termasuk infrastruktur.

Contoh yang mencolok adalah kondisi jalan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan hanya dengan tiga kecamatan dari Sarawak. Kondisinya sangat berbeda dengan situasi di negara tetangga.

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo

Selain itu,  pola penguasaan dan perlakuan koloni sebagai pemicu utama perbedaan tersebut. 

Inggris, melalui tokoh seperti Rajah Putih, Sir James Broke, tidak hanya mengendalikan sumber daya alam Sarawak tetapi juga melakukan pembangunan dan pendidikan di daerah tersebut. Misalnya, pembangunan astana di Kuching dan upaya pengajaran kepada penduduk setempat menciptakan suatu atmosfer di mana masyarakat Sarawak terdidik dengan baik, mahir dalam bahasa Inggris, dan memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan lebih lanjut di Inggris.

Di sisi lain, pendiri dan pengendali ereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Haaren (tuan) 17, yang terlibat dalam Kompeni Hindia Belanda, tiba di Nusantara termasuk Borneo dengan niat untuk menguasai dan menjajah. 

Pendekatan kolonialisme oleh VOC cenderung eksploitatif, dengan mengeksploitasi hasil bumi secara paksa demi keuntungan pribadi/ kelompok yang hasilnya dibawa keluar.

Dampak kumulatif kolonialisme oleh VOC

Perbedaan pendekatan antara Inggris dan VOC sangat mencolok. Inggris cenderung mengadopsi "politik balas jasa" dengan memberikan pendidikan dan infrastruktur, sementara VOC cenderung fokus pada eksploitasi sumber daya tanpa memberikan kontribusi yang signifikan pada perkembangan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Baca Manusia Dayak Dan Kawasan Hijau Borneo

Secara khusus, dampak VOC terhadap wilayah Nusantara yang menjadi bagian dari Republik Indonesia, seperti yang dijelaskan, lebih banyak menunjukkan sisi negatif.

Pola kolonialisme VOC di Nusantara cenderung meninggalkan warisan yang lebih bersifat merugikan, tanpa memberikan kontribusi signifikan pada perkembangan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Baca Cornelis: Berbeda Mengurus Jawa Dan Kalimantan

Sebagai "hukumannya", VOC bubar karena korupsi di berbagai lini. Dan pengeluaran dana segar untuk biaya perang melawan hadangan serta pemberontakan penguasa lokal (raja dan sultan Nusantara).

VOC bubar meninggalkan banyak utang

Sejarah mencatat bahwa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 sebagai sebuah perusahaan dagang Belanda yang memiliki monopoli atas perdagangan di wilayah Asia. 

Dikelola oleh 17 pemilik saham utama yang disebut "Heeren XVII," VOC menjadi sebuah kekuatan dominan, terutama di wilayah Nusantara, selama hampir 350 tahun. Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC mengalami pembubaran, sementara meninggalkan utang sebesar 136,7 juta gulden. 

Keberadaan dan kegiatan VOC memberikan dampak yang kurag positif terhadap sejarah perdagangan dan kolonialisme  Hindia Belanda di Asia pada masa itu.

(Masri Sareb Putra)

LihatTutupKomentar
Cancel