Bung Karno: Kalimantan Terbangun Baik Memberi Hidup Setidaknya 250.000.000 Manusia

Bung Karno, Kalimantan, Manusia, Pembangunan. Tjilik Riwut, Lukas Tingkes, Jokowi, IKN, Palangka Raya, Paser Penajam

 

Bung Karno, sang pemimpin besar Revolusi, di antara para Uskup Indonesia. 


PATIH JAGA PATI : Kalimantan adalah pulau yang terbesar ke-3 di dunia. Yakni 743.330 km². Suatu wilayah yang merupakan ulu hatinya Negara Republik Indonesia.

Tjilik Riwut tidak pernah menyebut total luas Kalimantan. Kepada Bung Karno, ketika sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia itu bertanya tentang luas Kalimantan, Riwut berkata, 

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo

"Luas Kalimantan itu 3 kali Pulau Jawa," katanya. "Belum termasuk Kalimantan yang menjadi wilayah negara tetangga.

Kalimantan 3 kali Pulau Jawa
Seperti diketahui bahwa luas pulau Kalimantan 743.330 km². Sedangkan luas pulau Jawa 139.000 km². Jadi: Pulau Kalimantan 3,88 kali lebih luas daripada Pulau Jawa.

Penjelasan Tjilik Riwut yang demikian itu membuat Bung Karno berdecak. Sekaligus tersentak. Metafora yang sungguh kuat. Mengatakan dengan tidak mengatakan. Begitu caranya orang pintar menjawab. Dengan diplomasi tinggi.

Baca Dayak Pewaris Dan Pemangku Pulau Borneo

Nah, jawaban Riwut kepada Bung Karno tentang luas Kalimantan seperti itu didapat dari ajudannya yang kemudian menjadi walikota Palangka Raya, Lukas Tingkes.

Berarti Kalimantan sungguh luas. Tepatnya luas Kalimantan adalah 3,53% dari seluruh wilayah Indonesia.

Dari mana gerangan mendapat catatan itu? Dari Tjilik Riwut. Seorang birokrat, cendikiawan dan penulis Dayak yang rajin mencatat. 

Dalam salah satu risalah Riwut tercatat yang demikian ini:

"Karena itulah judul ini kita beri Raksasa Kalimantan, selain bentuknya besar, hasil alamnya besar, dan maha besar alias raksasa yang mohon . . . dengan sangat agar pemuda-pemuda dan seluruh bangsa Indonesia menumpahkan perhatiannya kepada pembangunan raksasa di Kalimantan ini."

Kalimantan memberi hidup 250.000.000 manusia

Menurut perhitungan Bung Karno demikian. Bila Kalimantan terbangun dengan baik maka paling sedikit dapat memberi hidup bagi 250.000.000 jiwa manusia. 

Tentu saja, konteks angka jumlah manusia Indonesia ketika tahun 1960-an. Angka sama, tapi makna berbeda! Pada ketika itu, jumlah penduduk Indonesia belum mencapai 100 juta, sebab sensus penduduk tahun 1971 baru: 119. 208. 229 penduduk Indonesia.

Tatkala Bung Karno akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Tjilik Riwut memberinya dukungan penuh. Dengan mengerahkan sejumlah massa Dayak menghadap kepadanya memberikan sokongan. Riwut salah seorang tokoh yang mewakili 142 suku Dayak di pedalaman Kalimantan sekitar 185.000 jiwa, yang menyatakan diri setia pada Republik Indonesia.

Jauh hari sebelum realisasi pemindahan IKN ke Paser Penajam, Kalimantan Timur. Wacana pemindahan Ibu Kota Negara sudah dimulai Bung Karno.Lokus yang menjadi titik 0 ibukotanegara versi Bung Karno di Palangka Raya. 

Bahkan telah mulai pembangunannya. Infrastruktur sudah dibuka. Jalan-jalan protokol dicadangkan. Sedangkan rumah-rumah penduduk, jauh dari tepi jalan utama. 

Baca Dr. Masiun Mengungkap Hasil Penelitian Valuasi Wilayah Adat Taman Sunsong

Bung Karno rupanya telah melihat ke depan. Bahwa Kalimantan strategis posisinya. Ia berada pada titik sentral, atau pusat, dari Indonesia. Kalimantan pula wilayah yang menyangga ketahanan dan kedaulatan negara Republik Indonesia. 

Studi banding ke Bundaran HI
Lukas Tingkes yang dikirim Tjilik Riwut ke Jakarta melakukan studi pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Tengah menceritakan kisah ini.

Dan kesaksiannya itu benar. "Saya behari-hari duduk depan Bundaran Hotel Indonesia. Menghitung tiap berapa detik mobil lewat. 

Itulah bundaran HI duplikatnya di depan kantor gubernur Kalimantan Tengah saat ini, istana Isen Mulang," papar Tingkes.

Lukas Tingkes (kiri) memberikan kesaksian itu ketika diwawancarai penulis.Dan kesaksiannya itu benar. Dia yang mendengarkan langsung kesaksian itu, menulisnya, supaya kamu juga: percaya akan kebenaran itu.






Gubernur Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut ketika itu adalah sahabat-dekat Bung Karno. Sekaligus, kawan-diskusi. Lawan-latih tanding berpikir Bung Karno tentang keindoneisaan dan pembangunan. Bahkan menurut arsip yang tersimpan. 

Tatkala Bung Karno akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Tjilik Riwut memberinya dukungan penuh. Dengan mengerahkan sejumlah massa Dayak menghadap kepadanya memberikan sokongan.

Riwut salah seorang tokoh yang mewakili 142 suku Dayak di pedalaman Kalimantan sekitar 185.000 jiwa, yang menyatakan diri setia pada Republik Indonesia. 

Baca Krayan: Sepotong Surga Yang Jatuh Ke Bumi

Mereka melaksanakan Sumpah Setia dengan upacara adat leluhur suku Dayak kepada pemerintah Republik Indonesia pada 17 Desember 1946 di Gedung Agung, Jogjakarta.

Semasa hidupnya, Riwut adalah teman latih-tanding berpikir Bung Karno dalam banyak hal. Utamanya terkait relasi keindonesiaan dan kedaerahan. Termasuk isu pemindahan IKN dari Jakarta ke Kalimantan.

Catatan itu ditemukan dalam buku Maneser Pantau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur (.t.t) halaman 528.

Jadi pindah ke Kalimantan tapi bukan di Palangka Raya
Jika kini Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan, yang digagas dan dilaksanakan semasa pemerintahan Presiden Jokowi, agaknya menggenapi sejarah yang telah lama dimulai. 

Hanya saja, posisi ibukota RI yang dipindahkan dari Jakarta itu bukan seperti yang terjadi  yakni di Paser Penajam, Kalimantan Timur. Melainkan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, seturut visi dan wasiat Bung Karno. 

Jika pasang nomor, buntutnya masih kena sih. Hanya saja, bukan angka yang sebenarnya (Rangkaya Bada).

LihatTutupKomentar
Cancel