Rina Laden: Selamat Jalan!

Rina, Laden, Mering, Lou, Benuaq Tunjung, Pampang, Samarinda, Upakarti, Soeharto, buku, Menghitung Hari, Beyond My Dreams, Muara Bomboy, Damai
Rina Laden dalam sketsa wajah waktu yang terus berlalu.


PATIH JAGA PATI : Vita brevis, ars longa— hidup singkat, tapi seni abadi. 

Peribahasa ini sepertinya sangat relevan untuk menggambarkan perjalanan hidup dan warisan seni yang ditinggalkan oleh Rina Laden. 

Seniwati Dayak yang begitu berharga, yang mengembuskan napas terakhir di Samarinda pada Kamis, 30 November 2023.

Rina Laden meninggalkan jejak seni

Rina Laden meninggalkan jejak seni yang tak terlupakan, terutama melalui sumbangsihnya terhadap Desa Budaya Pampang. 

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo

Dengan dedikasi dan karyanya, ia telah menjadikan tempat tersebut bukan hanya sebagai tempat fisik, tetapi sebagai panggung keberlanjutan budaya dan seni masyarakat Dayak. 

Desa Budaya Pampang menjadi saksi bisu dari kerja keras dan semangat Rina dalam melestarikan dan memperkaya warisan budaya.

Tidak hanya sebagai seniwati, namun melalui pena dan kata-katanya, Rina Laden juga merajut warisan budaya Dayak dalam buku-buku yang ditulis dan diwariskannya. 

Karya-karya tulisnya menjadi jendela bagi pembaca untuk memahami dan mengapresiasi kekayaan budaya serta kehidupan pribadi yang luar biasa.

Laden Mering (suami), Rina Laden, Tantri Sulastri, (Masri Sareb), dan Pepih Nugraha, pendiri Kompasiana dan jurnalis senior pada sebuah jamuan makan mala di kota Samarinda, 2020. Bicara tentang literasi dan sejarah pemekaran Kalimantan Utara.

Kini, saat kita mengenang Rina Laden, kita tidak hanya meratapi kepergiannya, tetapi juga merayakan warisan seni yang ia tinggalkan. 

Melalui karya-karya dan kontribusinya, Rina telah berhasil menciptakan keabadian, menginspirasi dan memberikan makna yang mendalam bagi mereka yang menghargai seni dan budaya Dayak. 

Baca Balai Kepatihan: Simbol Kedaulatan Dayak

Seni abadi kadang tidak dapat diciptakan dalam rentang waktu yang relatif singkat. Desa Pampang dan rumah budaya, yang diinisiasi Rina misalnya. Tidak dibangun dalam tempo semalam seperti Candi Lorojonggrang.

Namun, meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam sejarah dan budaya.

Salah seorang figur buku 101 Tokoh Dayak I

Rina Laden. Agaknya, warga Kalimantan Timur mengenalnya baik. Namanya populer. 

Rina seorang tokoh yang muncul dalam radar perhatian saya. Sebagai periset; nama dan karyanya terekam bukan saja secara cetak, namun juga digital. 

Rina bukan hanya sebagai figur dengan keturunan darah biru, tetapi sebagai sosok yang telah menorehkan jejaknya dalam perjalanan panjang beberapa tahun terakhir. 

Kenalnya bukan sekadar sebatas satu atau dua tahun, melainkan sebuah pengenalan yang telah mengakar kuat bertahun-tahun lalu. 

Pengetahuan mendalam saya tentang "Kak Rina" bermula saat saya terlibat dalam pengumpulan bahan untuk buku 101 Tokoh Dayak I, di mana Rina Laden meraih tempatnya dengan berbagai alasan yang memikat.

Baca Kecerdasan Alam (Natural Smart) Manusia Sungai Krayan

Pada saat peluncuran buku 101 Tokoh Dayak di Galeri Taman Ismail Marzuki pada tahun 2014, Rina Laden tampil dengan penuh semangat dan dukungan, menunjukkan komitmen dan keterlibatannya dalam proyek tersebut. 

Menarik untuk dicatat bahwa ia tidak hanya hadir sebagai salah satu tokoh yang terpilih dalam buku tersebut, tetapi juga sebagai sosok yang aktif berpartisipasi dalam momen bersejarah tersebut.

Ketika Rina terbang dari Jakarta bersama suami tercintanya, Laden Mering, ke Galeri Taman Ismail Marzuki. Sepasang suami-isteri bukan hanya membawa nama baik keluarga mereka sendiri tetapi juga mewakili keberagaman dan kekayaan budaya masyarakat Dayak. 

Kehadiran mereka di acara peluncuran menjadi sebuah penghormatan terhadap kerja keras para penyusun buku dan sebuah kesempatan untuk membagikan warisan budaya Dayak kepada khalayak yang lebih luas.

Kehadiran Rina dari awal hingga akhir acara menegaskan komitmen dan kepeduliannya terhadap upaya pelestarian dan penyebaran pengetahuan mengenai tokoh-tokoh Dayak. 

Dalam momen tersebut, Rina Laden dan suaminya memberikan inspirasi melalui kehadiran mereka Ujud-nyata bahwa apresiasi terhadap budaya lokal dapat menjadi sebuah perjalanan yang menginspirasi dan bermakna.

Momen peluncuran buku tersebut tidak hanya menjadi acara formal, tetapi juga panggung bagi Rina untuk membagikan wawasan dan pengalaman pribadinya kepada hadirin. 

Keberadaannya di acara tersebut menjadi sebuah momentum penting yang memperkuat peran dan kontribusinya sebagai salah satu tokoh Dayak yang patut diakui dan diabadikan dalam sejarah budaya Indonesia.

Dedikasi luar biasa 

Dedikasi luar biasa Kak Rina tergambar dalam berbagai aspek kehidupannya, yang menjadikannya sebuah pilihan yang tepat untuk dimasukkan ke dalam buku tersebut. 

Salah satu hal yang membuatnya menonjol adalah komitmen kuatnya terhadap pembangunan rumah budaya Dayak (Kenyah) di Pampang. 

Tidak hanya sebagai tempat untuk melestarikan budaya, namun juga sebagai simbol keberlanjutan warisan nenek moyang yang tak ternilai harganya.

Hari ini, Sabtu, tanggal 2 Desember, kita menyaksikan sebuah peristiwa yang mendalam dan bermakna. Kak Rina, sosok yang telah memberikan kontribusi besar terutama dalam pelestarian budaya Dayak, kini diamanahkan pada tanah yang ia cintai di Desa Budaya Pampang, tempat yang telah menjadi buah karyanya sendiri.

Prestasi Kak Rina semakin bersinar dengan penghargaan Upakarti yang diterimanya, sebuah pengakuan yang mengukuhkan perannya sebagai agen perubahan dalam pelestarian lingkungan dan keberlanjutan. 

Keberhasilannya sebagai seorang perempuan dosen menunjukkan bahwa kecerdasan dan dedikasi tak mengenal batas gender. Menjadi wakil rakyat di Kalimantan Timur, Rina tampil sebagai pemimpin yang penuh semangat, selalu berdedikasi untuk membela dan membangun sumber daya manusia di daerahnya.

Baca Cornelis: Berbeda Mengurus Jawa Dan Kalimantan

Dengan semua pencapaian dan kontribusinya, Kak Rina Laden menjadi inspirasi bagi banyak orang, bukan hanya di kalangan masyarakat Dayak, tetapi juga bagi semua yang menghargai perjuangan dan keteguhan dalam membangun komunitas serta melestarikan kearifan lokal. 

Keberadaannya memberikan harapan bahwa melalui dedikasi dan kerja keras, seseorang dapat menjadi agen perubahan positif yang memberikan dampak besar bagi masyarakatnya dan lingkungan sekitarnya.

Penulis dan kolektor buku

Rina Laden  memiliki warisan literatur yang luar biasa. Di rumah pribadinya, di Samarinda, ada sebuah perpustakaan keluarga. Berbagai buku, terutama hukum, adat, dan humaniora; terpampang di sana.

Setidaknya, ada dua buku yang telah ditulis dan dipublikasikan. Setiap karya menawarkan pandangan mendalam ke dalam kehidupan pribadinya dan pengalaman yang menginspirasi. 

Berikut adalah gambaran singkat tentang kedua bukunya.

  • Menghitung Hari (2016)
    Buku ini, diterbitkan pada tahun 2016, memberikan pengalaman yang menggugah perasaan tentang kehilangan seorang anak yang dipanggil Tuhan dalam usia yang sangat muda. Rina Laden tampaknya membuka hatinya dalam buku ini, membagikan kisah tentang cinta, kehilangan, dan proses penyembuhan setelah kepergian anaknya.

    Melalui kata-kata, ia mungkin menciptakan narasi yang tidak hanya membangkitkan emosi pembaca tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang ketahanan manusia dalam menghadapi cobaan berat.

  • Beyond My Dreams (2019)
    Buku kedua, yang diterbitkan pada tahun 2019. Mengandung dimensi biografi yang sangat gemuk dengan lebih dari 804 halaman. Dalam karya ini, Rina mungkin merinci perjalanan hidupnya dengan mendalam, mengeksplorasi berbagai aspek kehidupannya dari masa kecil hingga pencapaian dan perjuangannya.

    Buku biografi sering kali memberikan konteks dan pemahaman yang lebih luas tentang pribadi seseorang, dan Beyond My Dreams mungkin menjadi jendela ke dalam kehidupan dan pemikiran Rina Laden.

    ISBN: 978-602-6381-89-7

Pulang kembali ke Desa Pampang

Hari ini, Sabtu, tanggal 2 Desember, kita menyaksikan sebuah peristiwa yang mendalam dan bermakna. Kak Rina, sosok yang telah memberikan kontribusi besar terutama dalam pelestarian budaya Dayak, kini diamanahkan pada tanah yang ia cintai di Desa Budaya Pampang, tempat yang telah menjadi buah karyanya sendiri.

Menarik untuk dicatat bahwa saat-saat ini, Kak Rina seharusnya sibuk memimpin pembangunan Lou Rumah Adat Suku Benuaq Tunjung, proyek yang dipimpinnya dengan penuh dedikasi dan kecintaan. 

Baca Patih Jaga Pati: Balai Kepatihan Legasi Untuk Suku Bangsa Dayak

Lou Rumah Adat tersebut tidak hanya sekadar replika atau monumen yang lazim dibangun oleh pemerintah daerah. Kak Rina mendedikasikan dirinya untuk membangun sesuatu yang sesuai dengan keaslian dan keutuhan budaya Suku Benuaq Tunjung.

Pilihan ini menunjukkan bahwa Kak Rina tidak hanya melihat pembangunan sebagai sekadar bentuk fisik semata, tetapi sebagai upaya pelestarian warisan budaya yang membutuhkan penghargaan dan pemahaman mendalam. 

Desa Budaya dan Lou

Lou Rumah Adat yang dibangunnya tidak hanya menjadi bangunan, melainkan simbol keberlanjutan tradisi dan identitas masyarakatnya.

Walau telah pamit dari dunia ini, warisan Kak Rina terus hidup dalam karya-karya monumental yang telah dihasilkannya. 

Desa Budaya Pampang dan Lou Rumah Adat Suku Benuaq Tunjung adalah bukti nyata bahwa dedikasinya tak berakhir dengan kepergiannya. 

Rina telah meninggalkan jejak yang abadi, membangun sesuatu yang tidak hanya berdiri tegak secara fisik, tetapi juga mengandung makna dan nilai-nilai yang akan terus menginspirasi generasi mendatang.

Siapa Rina?

Malam itu, dalam keheningan gulita, pintu rumah terdengar digedor tiba-tiba, memecah sunyi malam. Berita yang disampaikan oleh paman membawa kabar dukacita yang menggetarkan hati semua yang mendengarnya. 

Ayah Rina telah menjadi korban kekejaman, tak bersisa dihantam tipu daya di tengah hutan belantara saat mempertahankan tanah ulayat keluarganya. 27 Juli 1967, malam nahas itu terpatri dalam ingatan Rina, yang waktu itu baru berusia 16 tahun.

Ditinggal oleh ayah yang tak lagi bernyawa, ibu Rina dengan gigih menjalani peran sebagai single parent, menghidupkan dan membesarkan Rina beserta saudaranya. 

Lahir pada 20 November 1951 di sebuah dusun kecil di Muara Bomboy, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Rina bertekad bangkit dari mimpi buruk yang melanda keluarganya.

Penulis bersama "Kak Rina" di rumahnya di Samarinda, 2020. Ia suka baca dan seorang bibliofilia (penggila buku).

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, Rina melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman pada tahun 1987. 

Alumna perguruan tinggi tersebut tidak hanya menjadi dosen di almamaternya, tetapi juga aktif sebagai aktivis perempuan dalam berbagai organisasi, bahkan mengejar pemahaman gender hingga ke Leiden University di Belanda pada tahun 1994. Kesempatan ini memberinya bekal untuk menapaki jalur wirausaha.

Meski perjalanan wirausaha tidak selalu mulus, Rina tetap tegar dan semangat. Setelah memperoleh kekuatan yang cukup, ia memulai upaya pemberdayaan para perajin di Desa Wisata Pampang, Samarinda. 

Dedikasinya tak luput dari perhatian, dan pada suatu waktu, Rina dianugerahi penghargaan Upakarti oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan, kategori pengabdian untuk pembinaan dan pengembangan industri kecil. Prestasi ini mencapai puncaknya pada tahun 1996, ketika penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto di Istana Negara.

Dari Pampang kembali ke Pampang

Perjalanan Rina tidak hanya terbatas pada dunia bisnis. Ia turut meramaikan panggung politik sebagai anggota DPRD Provinsi di era Orde Baru, mewakili partai Golkar. 

Sebagai pecinta seni budaya Dayak, Rina aktif membina masyarakat di Desa Wisata Budaya Pampang Samarinda. 

Keberanian Rina membawa rombongan penari Dayak tampil di berbagai ajang nasional dan internasional, termasuk Pawai Bunga di Pasadena, Los Angeles, Amerika Serikat.

Dari Pampang. Kembali ke Pampang. Inilah perjalanan hidup Rina. Seorang perempuan tangguh yang berhasil menjawab panggilan kehidupan dengan penuh semangat dan dedikasi. 
(Masri Sareb Putra)

LihatTutupKomentar
Cancel