William Chang: Profesor Filsafat Pancasila yang Ugahari

William Chang, profesor Filsafat, Natural Intellectual, Kompas ,Pancasila, Moral Nexus, Pontianak, Vikjen, Fransiskus Asisi, Kapusin, Jitmen

  

Penulis (kiri) dan Prof. William Chang.

PATIH JAGA PATI :  William Chang. Sebut saja nama itu. Rata-rata orang Kalimantan Barat mengenal siapa dia?

Namun, sebelum lebih dekat mengenal sosok langsing yang jarang mengenakan sepatu ini, mari mengarahkan hati kepada buah karya intelektualnya.

Buku yang menjadi fokus para pengkaji filsafat moral negeri ini salah satunya adalah karya olah intelektual William Chang. 

Seperti dapat Pembaca saksikan ilustrasi covernya, ini merupakan publikasi dari disertasi Doktoral William Chang di universitas Kepausan, Roma. Adapun judulnya  The Dignity of the Person in Pancasila and the Church's Social Doctrine: An Ethical Comparative Study (Keluhuran Martabat Manusia dalam Pancasila dan Ajaran Sosial Gereja: Studi Perbandingan Etika).

Publikasi konversi disertasi ini diterbitkan oleh The Cleretian Publications di Manila, Filipina, pada tahun 1997, dengan total 394 halaman.

Nilai dan filosofi Pancasila: sebuah Novelty

Novelty atau keunikannya terletak pada perbandingan mendalam antara nilai-nilai dan filosofi Pancasila dengan Ajaran Sosial Gereja Katolik. 

Kemampuan abstraksi tingkat tinggi serta kemampuan untuk membandingkan ini menjadikan studi ini sebagai sumbangan berharga bagi bangsa Indonesia dan Gereja di Indonesia. Terutama di bagian akhir buku, penulis menyajikan senarai buku-buku terkait dengan topik Pancasila mulai dari kemerdekaan hingga riset ini dilakukan.

Baca Misa Syukur Tahbisan Uskup Baru Banjarmasin: Mengapa Di Ketapang?

Cara kerja akademis seperti ini, menjalani proses metodologi dengan benar dan berkanjang. Menunjukkan dedikasi penulis dalam menjalani pekerjaan akademis yang organik. 

Peneliti pada masa tersebut harus bergantung pada sumber-sumber yang disebutkan dalam literatur dan melakukan pembacaan yang cermat.


Bandingkan dengan zaman sekarang, di mana akses terhadap data dan informasi begitu mudah melalui Google dan sumber-sumber terbuka lainnya, serta penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Penulis, akademisi, serta profesor yang sibuk tapi bahagia

Apresiasi tinggi patut diberi kepada peneliti dan penulis zaman dahulu yang telah melakukan upaya besar dalam pekerjaan akademis mereka tanpa dukungan alat dan teknologi modern. Kemampuan intelektual alami (Natural Intellectual) benar-benar tercermin dalam usaha mereka.

Saat ini, William Chang telah menjadi seorang profesor di bidang Filsafat Moral. Ia tinggal di Pontianak dan mengajar di salah satu perguruan tinggi ternama di kota tersebut. Perjalanan akademisnya dari menulis disertasi hingga menjadi seorang profesor adalah bukti nyata dari dedikasinya dalam dunia penelitian dan pendidikan.

William Chang menjalani proses metodologi dengan benar dan berkanjang. Menunjukkan dedikasi penulis dalam menjalani pekerjaan akademis yang organik. Peneliti pada masa tersebut harus bergantung pada sumber-sumber yang disebutkan dalam literatur dan melakukan pembacaan yang cermat.

William Chang dikenal produktif menulis atikel ilmiah populer, terbanyak terbit di harian Kompas. Kompilasi artikel yang dimuat Kompas dipilah per topik. Sedemikian rupa, menjadi buku berjudul Moral Nexus.
Baca

William telah menjadi seorang profesor di bidang Filsafat Moral. Ia tinggal di Pontianak dan mengajar di salah satu perguruan tinggi ternama di kota tersebut. Perjalanan akademisnya dari menulis disertasi hingga menjadi seorang profesor adalah bukti nyata dari dedikasinya dalam dunia penelitian dan pendidikan.

Baca Kecerdasan Alam (Natural Smart) Manusia Sungai Krayan

Keistimewaan buku ini tercermin pada Rujukan yang mengagumkan, meliputi hampir seribu pustaka acuan. Ini bukti konkret akan kedalaman penelitian yang dilakukan oleh penulis. Sekaligus menandakan keterlibatannya yang mendalam dan komitmen dalam memahami topik tersebut.

Daftar Pustaka yang mencakup 53 halaman (hal. 341-394) menyiratkan upaya besar penulis dalam menggali informasi, memperkuat keandalan kontennya, serta memberikan landasan kuat bagi pernyataan yang dibuat dalam buku ini.

Vicarius General

Sebagai pastor, William memangku tugas cukup strategis dan tinggi di ranah Gereja Katolik. Anggota kuria keuskupan. Ia dipercaya sebagai Vicarius General (Vikjen) Keuskupan Agung Pontianak. 

Bagi yang ingin tahu, Vikaris Jenderal diangkat dalam sebuah keuskupan sebagai "alter ego" (diri lain/wakil) dari uskup untuk membantunya dalam administrasi dan pelayanan pastoral keuskupan.

Vikaris Jenderal memiliki wewenang eksekutif, namun tidak memiliki wewenang legislatif atau yudisial. Ia mewakili dan bertindak sebagai pengganti Uskup ketika Uskup tidak berada di tempat.

Profesor sehari-hari

Profesor William Chang, meskipun telah mencapai prestasi akademis yang luar biasa dan menjadi seorang pemikir yang dihormati di bidang Filsafat Moral, tetap mempertahankan sifatnya yang ugahari atau sederhana. William menghidupi pola hidup yang sederhana dan tulus, mengutamakan nilai-nilai kehidupan yang mendasar daripada kepentingan material.

Baca Dayak Tidak Dari Mana Pun, Melainkan Asli Borneo

Dalam penampilan sehari-hari, William Chang dikenal berpakaian sepantasnya dan tidak pernah berlebihan. Ia tidak tergila-gila dengan tren mode atau barang-barang mewah. 

William makan, minum, berpakaian, berkendaraan, serta beralas kaki seadanya. Tidak ada kesan berlbihan padanya. Dalam bahasa terdalam, ia seorang ugahari.

Ugahari

Apakah "ugahari"?

Kadangkala, orang bertanya apa makna leksilanya. Kata ini jauh lebih dalam, lagi bernas, daripada "sederhana, apa adanya". Kosakata Indonesia juga, sebenarnya, namun jarang digunakan.

Jika membuka kamus BI daring, ugahari adalah: 

  1. a kl sedang; pertengahan
  2. a kl sederhana

Nah, profesor kita orangnya seperti itu! 

Meskipun bisa saja memiliki berbagai barang modern, ia memilih untuk menggunakan ponsel (HP) yang bukan model terkini. Dengan ini, ia menunjukkan komitmennya pada hidup seadanya, ugahari, mengutamakan keluhuran martabat manusia di atas segalanya.

Sifat ugahari atau sederhananya terinspirasi oleh teladan St. Fransiskus Asisi, pendiri Ordo Kapusin. Di mana Chang menghayati sekaligus merenungkan hidupnya. Seperti St. Fransiskus, Chang juga mengikat dirinya pada prinsip-prinsip ketaatan dan kemurnian, serta mengambil contoh dari ugahari yang dijalani oleh saudara-saudara dina, yang merupakan bagian dari tarekat Fransiskan.

Baca Tjhai Chui Mie : Pesona Perempuan Hakka Walikota Singkawang

Penulis yang menenal William sejak lama, sungguh merasa takjub. Ia menghayati kaulnya. Selain berkanjang pada kaul, Jitmen juga bahagia dalam panggilan dan keseserhanaannya. Contoh ilmu padi, ada padanya!

Bukan hanya mengajarkan nilai-nilai intelektual

Dalam praksis hidupnya, sang Profesor bukan hanya mengajarkan nilai-nilai intelektual, tetapi juga menjalani dan mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan sehari-hari. Kesederhanaan dan kesalehan hidupnya memancarkan inspirasi bagi orang lain, menunjukkan bahwa prestasi dan kepemilikan materi bukanlah tujuan utama dalam hidup.

Jitmen, kawan-kawan rapat menyapanya, adalah contoh nyata. Tentang bagaimana seseorang dapat mencapai kesuksesan akademis sambil tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual dan ugahari. 

(Masri Sareb Putra)

LihatTutupKomentar
Cancel