Sawit sebagai Alat Politik-ekonomi

sawit, anti-sawit, Post-truth, air, mengisap, Greeen Economy, alat politik-ekonomi, Roundtable on Sustainable Palm Oil, RSPO

PATIH JAGA PATI : Sawit. Benarkah "emas hijau" atau bahasa ilmiahnya "elaeis guineensis" rakus akan air? 

Tidakkah hal itu kampanye hitam agar produsen sawit dunia, seperti Indonesia dan Malaysia, tunduk pada pasar komoditas penghasil minyak goreng yang lain yang didominasi oleh negara Eropa dan Amerika?

Kini, pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis) tidak hanya dikenal sebagai sumber bahan baku untuk produk seperti minyak goreng, kosmetik, dan berbagai produk industri lainnya. 

Baca Luasan Lahan Sawit Di Ketapang Dan Manfaatnya

Lebih dari sekadar itu, kelapa sawit telah mengalami transformasi menjadi alat politik-ekonomi yang kuat. 

Tarik-menarik antara berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan mencari keuntungan dari industri kelapa sawit telah menjadi pemandangan sehari-hari dalam arena politik-ekonomi. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada tingkat nasional, seperti Indonesia, tetapi juga memiliki dampak dan relevansi yang signifikan di tingkat global.

Sawit: Alat politik-ekonomi
Industri kelapa sawit telah menjadi subjek perdebatan yang sengit dan sering kali kontroversial, dengan berbagai pihak yang memiliki beragam kepentingan. 

Di tingkat nasional, negara-negara produsen kelapa sawit seperti Indonesia dan Malaysia memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang besar dalam mengelola sumber daya ini. Kedua negara ini bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar dan meningkatkan pendapatan dari ekspor kelapa sawit.

Baca Kuritzin, Chairman Rusia Chambers Of Commerce Dan Buku Sawit Untuk Negeri

Di tingkat internasional, masalah terkait dengan keberlanjutan, hak asasi manusia, dampak lingkungan, dan perdagangan kelapa sawit menjadi isu global yang memengaruhi hubungan antarnegara. 

Organisasi dan perjanjian internasional seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) berusaha untuk mengatasi masalah-masalah ini dan mengatur industri kelapa sawit secara lebih berkelanjutan.

Dengan begitu banyak kepentingan dan konflik yang terlibat, kelapa sawit telah menjadi elemen kunci dalam politik-ekonomi yang mempengaruhi kebijakan, perdagangan, dan diplomasi di berbagai tingkat. 

Maka, bukan hanya sekadar komoditas, kelapa sawit telah menjadi simbol perdebatan kompleks dan berbagai perubahan di tingkat nasional dan internasional.

Selama ini, banyak pihak yang berpandangan negatif terhadap perkebunan kelapa sawit telah mengembuskan isu bahwa kelapa sawit merupakan salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan dan krisis air di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. 

Sawit dan Post-truth
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), anti-sawit, dan gerakan yang menemakan diri "Ekonomi Hijau" (Greeen Economy) hampir senantiasa mengkampanyekan bahwa kelapa sawit sebagai tanaman yang rakus akan air dan sebagai ancaman serius bagi masa depan bumi dan kesejahteraan manusia. 

Namun, penelitian terbaru telah membantah pandangan ini dan mengungkapkan bahwa klaim tersebut adalah bagian dari apa yang disebut sebagai "post-truth."

Post-truth adalah fenomena di mana fakta objektif cenderung kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada emosi dan keyakinan pribadi. Dalam konteks isu kelapa sawit, banyak pendekatan anti-sawit sejauh ini telah didasarkan pada emosi dan keyakinan, tanpa dukungan data ilmiah yang kuat.

Hasil penelitian yang dilakukan di dua lokasi perkebunan kelapa sawit yang berbeda di Indonesia telah membuka mata kita terhadap kenyataan bahwa kelapa sawit tidak seburuk yang digambarkan selama ini. 

Studi ini mengungkapkan bahwa kelapa sawit sebagian besar mengandalkan air hujan dan air permukaan, bukan air tanah yang dapat mengancam sumber air. Hal ini menunjukkan bahwa klaim tentang kelapa sawit yang rakus akan air mungkin terlalu dilebih-lebihkan.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki potensi untuk memantau dan mengelola penggunaan air secara lebih efisien. 

Dengan model aplikasi perhitungan jejak air dan sistem peringatan dini, perkebunan kelapa sawit dapat memastikan penggunaan air yang berkelanjutan.

Dengan kata lain, penelitian ilmiah adalah alat yang sangat penting untuk menegaskan kebenaran dan menjawab klaim post-truth. Ini menunjukkan pentingnya menggali lebih dalam dan mencari bukti ilmiah sebelum membuat kesimpulan atau menyuarakan pandangan negatif terhadap suatu isu. 

Baca Bung Karno: Kalimantan Terbangun Baik Memberi Hidup Setidaknya 250.000.000 Manusia

Menggunakan model pendekatan berdasarkan bukti ilmiah, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat dan efektif dalam melindungi lingkungan dan sumber daya air sambil tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Penelitian terbaru mengenai dampak kelapa sawit terhadap sumber air di Indonesia menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit tidak mengancam sumber air. 

Hasil studi yang dilakukan di dua lokasi perkebunan kelapa sawit yang berbeda di provinsi Riau dan Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut memiliki jejak air lebih rendah daripada yang ditanam di tanah mineral.

Hasil studi di Kalimantan Tengah menunjukkan jejak air sebesar 1002,1 m3 per ton tandan buah segar (TBS), yang terdiri dari air hijau, biru, dan abu-abu. 

Perkebunan kelapa sawit seringkali dikaitkan dengan masalah lingkungan, terutama dalam hal penggunaan air yang tinggi, yang diyakini dapat mengancam keberlanjutan sumber air di Indonesia. Namun, studi ini menunjukkan bahwa kelapa sawit sebagian besar menggunakan air hujan dan air permukaan, sehingga tidak membahayakan sumber air.

Selain itu, penelitian ini juga merumuskan model aplikasi perhitungan jejak air sebagai sistem peringatan dini di perkebunan kelapa sawit, dengan mempertimbangkan faktor seperti curah hujan, jenis tanah, usia tanaman, dan produksi tanaman. 

Hasil studi di Kalimantan Tengah menunjukkan jejak air sebesar 1002,1 m3 per ton tandan buah segar (TBS), yang terdiri dari air hijau, biru, dan abu-abu. 

Di Riau, jejak air adalah 593,61 m3 per ton TBS, dengan komposisi yang serupa.

Hasil penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dampak perkebunan kelapa sawit terhadap sumber air dan menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak seburuk yang dituduhkan dalam isu-isu lingkungan.

Selama ini, banyak pihak yang memiliki pandangan negatif terhadap perkebunan kelapa sawit telah mengembuskan isu bahwa kelapa sawit merupakan salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan dan krisis air di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. 

Baca Samuel Oton Sidin| Uskup Sintang Peraih Kalpataru

Mereka mendeskripsikan kelapa sawit sebagai tanaman yang rakus akan air dan sebagai ancaman serius bagi masa depan bumi dan kesejahteraan manusia. Namun, penelitian terbaru telah membantah pandangan ini dan mengungkapkan bahwa klaim tersebut adalah bagian dari apa yang disebut sebagai "post-truth."

Post-truth adalah fenomena di mana fakta objektif cenderung kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada emosi dan keyakinan pribadi. 

Dalam konteks isu kelapa sawit, banyak pendekatan anti-sawit sejauh ini telah didasarkan pada emosi dan keyakinan, tanpa dukungan data ilmiah yang kuat.

Hasil penelitian yang dilakukan di dua lokasi perkebunan kelapa sawit yang berbeda di Indonesia telah membuka mata kita terhadap kenyataan bahwa kelapa sawit tidak seburuk yang digambarkan selama ini. 

Studi ini mengungkapkan bahwa kelapa sawit sebagian besar mengandalkan air hujan dan air permukaan, bukan air tanah yang dapat mengancam sumber air. Hal ini menunjukkan bahwa klaim tentang kelapa sawit yang rakus akan air mungkin terlalu dilebih-lebihkan.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki potensi untuk memantau dan mengelola penggunaan air secara lebih efisien. 

Dengan model aplikasi perhitungan jejak air dan sistem peringatan dini, perkebunan kelapa sawit dapat memastikan penggunaan air yang berkelanjutan.

Penelitian ilmiah adalah alat yang sangat penting untuk menegaskan kebenaran dan menjawab klaim post-truth. Ini menunjukkan pentingnya menggali lebih dalam dan mencari bukti ilmiah sebelum membuat kesimpulan atau menyuarakan pandangan negatif terhadap suatu isu. 

Melalui pendekatan berdasarkan bukti ilmiah, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat dan efektif dalam melindungi lingkungan dan sumber daya air sambil tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi. (Rangkaya Bada)

LihatTutupKomentar
Cancel