Terbang Sebesar Bunyi Burung Garuda, Jatuh Sekecil Bunyi Buah Keminting

peribahasa burung haruda, keminting

Ilustrasi narasi ini adalah lambang kesultanan Sintang yang diakui sebagai hasil karya cipta Sutha Manggala, seorang tokoh unggul Dayak dari wilayah Sanggau. 

Kemudian hari, simbol kesultanan Sintang ini dijadikan patok-duga, model oleh Sultan Hamid II untuk mencipta Garuda Pancasia, lambang negara Republik Indonesia.

Baca Deglasiasi Menjadi Varuna-Dvipa, Borneo, Kalimantan

Namun, tendensi kita bukan membahas asal usul dan makna burung garuda. Fokus ke judul narasi!

Tentu saja, judul narasi ini suatu peribahasa. Yang menggambarkan kedalaman makna, pemahaman, akan pengalaman hidup nenek moyang.

Pepatah ini mengandung pesan bahwa tindakan atau perbuatan seseorang memiliki konsekuensi, baik positif maupun negatif. Dalam hal ini, perumpamaan digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara seberapa besar atau pentingnya tindakan tersebut dengan seberapa kecil atau tidak pentingnya konsekuensinya.

"Pergi sebesar bunyi burung garuda" mengacu pada tindakan yang besar, signifikan, atau penting. Garuda adalah burung besar dalam mitologi Hindu yang melambangkan kekuatan dan keagungan.

"Saat jatuh sekecil bunyi buah keminting" mengacu pada konsekuensi tindakan yang mungkin hanya sepele atau tidak terlalu signifikan. Buah keminting biasanya kecil dan tidak terlalu penting dalam perbandingan dengan burung garuda.

Jadi, pepatah ini mengingatkan kita bahwa tindakan besar atau keputusan penting dapat memiliki konsekuensi yang tidak sebanding kecil atau sepele, dan sebaliknya, tindakan kecil atau sepele dapat memiliki konsekuensi yang tidak sebanding besar. Ini mendorong kita untuk berpikir dan bertindak dengan bijak dalam segala hal, bahkan yang mungkin tampak kecil, karena hal-hal tersebut dapat memiliki dampak yang tak terduga.

Baca Buku Lontaan Untuk Patih Jaga Pati

Penerapan pepatah "terbang sebesar bunyi burung garuda, jatuh sekecil bunyi buah keminting" dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan bertindak. 

Berikut beberapa cara penerapannya:

  1. Pertimbangkan Konsekuensi Tindakan: Sebelum membuat keputusan atau bertindak, pertimbangkan baik konsekuensi besar maupun kecil yang mungkin timbul. Berpikir tentang bagaimana tindakan tersebut dapat memengaruhi hidup Anda dan orang lain.
  2. Hindari Meremehkan Tindakan Kecil: Tindakan-tindakan kecil dan sepele juga dapat memiliki dampak yang signifikan. Misalnya, kata-kata yang diucapkan dengan sembrono atau perbuatan sehari-hari yang diabaikan dapat menyebabkan masalah atau konflik yang lebih besar.
  3. Berpikir Jangka Panjang: Perhatikan dampak jangka panjang dari tindakan dan keputusan Anda. Dalam beberapa kasus, tindakan kecil yang sepele sekarang dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar di masa depan.
  4. Prioritaskan Tindakan: Identifikasi tindakan dan keputusan yang benar-benar penting dan membutuhkan perhatian lebih. Prioritaskan tindakan tersebut daripada menghabiskan waktu dan energi pada hal-hal yang sepele.
  5. Belajar dari Pengalaman: Ketika Anda menghadapi konsekuensi tindakan Anda, baik yang besar maupun kecil, pelajari dari pengalaman tersebut. Gunakan pengetahuan tersebut untuk membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.
  6. Pertimbangkan Etika dan Nilai: Faktor-faktor etika dan nilai juga harus diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. Pertimbangkan apakah tindakan Anda sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang Anda pegang.
  7. Berbicara dengan Orang Lain: Terkadang, mendiskusikan tindakan dan keputusan dengan orang lain dapat membantu Anda mendapatkan sudut pandang yang berbeda dan pemahaman yang lebih baik tentang konsekuensinya.

Penerapan pepatah ini dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih bijaksana, berpikir lebih mendalam tentang tindakan mereka, dan menghindari kesalahan yang dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

LihatTutupKomentar
Cancel